Ada yang lain saat Hanan merengkuh Arka di ranjangnya pagi itu. Sesuatu yang ganjil. Semalaman mereka habiskan berbagi hangat dan cinta hingga pagi menjelang.

Hanan menjatuhkan cium di dahi Arka. Ia tahu cowok di dekapannya itu telah terjaga.

“Selamat ulang tahun,” bisiknya.

Namun lagi-lagi yang didapat Hanan adalah hela napas berat dari Arka. Biasanya Hanan akan menanyakan sebab, tapi entah kenapa kali ini ada sesuatu yang menahannya untuk diam. Ia memilih untuk membiarkan Arka yang berterus-terang.

“Mau sarapan?” Hanan mengalihkan topik pembicaraan. Hari ini seharusnya jadi hari bahagia untuk Arka. Ia ingin menciptakan itu untuknya.

Arka masih terdiam. Sebagai gantinya ia memeluk Hanan lebih erat. Hanan seketika paham memang ada hal serius yang terjadi.

“Kalo masih mau di sini juga nggak papa,” ucap Hanan. “Kita bobo sampe siang.”

Beberapa saat kemudian Arka bangkit dari posisinya. “Jangan, deh. Kamu pasti laper. Ayo sarapan.”

Pagi itu Hanan puas hanya bertopang dagu di meja dapur sambil menikmati pemandangan Arka yang wara-wiri sibuk membuat omelet dan nasi goreng. Di pikirannya mungkin sudah tergambar bayangan kehidupannya beberapa tahun lagi bersama Arka.

Cengiran Hanan yang sedang bermimpi di siang bolong melebar ketika Arka menaruh sepiring nasi goreng yang masih mengepul di hadapannya. Kemudian ia mengambil tempat duduk di sebelah Hanan sambil menaruh piringnya sendiri.

“Masih kurang dua, Ka.” Hanan menunjuk ke arah kursi kosong di depannya. Arka mengerutkan keningnya tak paham. “Masa anak-anak nggak sarapan?”

“Anak-anak?”

“Iya. Hanan kecil sama Arka kecil. Masa nggak dikasih sarapan? Kan bentar lagi mereka berangkat sekolah?”

Arka menatap Hanan datar sebelum melayangkan toyoran ke kepalanya. “Bangun!”

Hanan terkekeh sambil menyendok nasinya ke mulut. Kemudian ia menggumamkan masakan Arka yang enak. Mau tak mau Arka mengulas senyum tipis sebelum menikmati makanannya sendiri. Lalu kembali ia tenggelam dalam larut pikirannya.

“Agendanya hari ini mau ngapain?” celetuk Hanan setelah piringnya licin tandas. “Aku sih sebenernya pengen ngajak kamu kulineran ke itu loh, yang baru buka kemarin. Apa namanya?”

Arka menaruh gelasnya sebelum membalas ucapan Hanan.

“Yang jualan ikan bakar itu, ya?”

“Nah, itu!”

“Hmm, Nan, kalo hari ini kita di rumah aja gimana?”

Menyadari perubahan intonasi suara Arka, Hanan buru-buru membalas.

“Oh, nggak papa. Bebas. Kamu lagi capek, ya?”

“Enggak, aku…” Arka tampak ragu melanjutkan kalimatnya. Ia lalu memutar tubuhnya menghadap Hanan sepenuhnya, menangkup sisi wajah Hanan dengan tangannya. “Aku cuma pengen ngabisin waktu berdua aja sama kamu.”

Lalu Arka merengkuh raga Hanan seakan tak ingin melepas lagi. Kedua lengan Hanan sempat ragu untuk balas memeluk karena pelukan ini terasa lain. Namun pada akhirnya Hanan tetap memberikan dekap hangat untuk Arka. Karena lengannya tercipta semata untuk melindungi Arka.