but the memories of you live forever...

My best friend died yesterday. And there are so many things I regret. But the one thing I regret most,

I didn’t tell him that I fell in love with him.


Aku ada di sana ketika ia sekarat dan menghembuskan napas terakhirnya. Aku melihat wajahnya untuk terakhir kali sebelum raganya dipeluk bumi. Aku juga melihat langit dan orang-orang menangisi kepergiannya di depan tanah bertabur bunga. Namun bagiku rasanya tetap seperti mimpi. Seperti jika aku membuka mata esok hari, wajahnya yang kesal akan menyambutku karena aku selalu bangun kesiangan.

Ini hari ketujuh sejak ia pergi. Dan ia tak kunjung muncul di depan mataku.

Tanganku mengambil dua kaleng bir dari lemari pendingin dan menjatuhkannya ke keranjang. Kalengnya berdenting akibat beradu satu sama lain.

“Lo minum dua? Gue kan nggak minum?”

“Nggak, satunya buat Changmin.”

Aku terdiam begitu menyadari ucapanku. Jaehyun juga ikut termenung di dekatku. Aku selalu lupa bahwa Changmin tak ada bersama kami lagi. Sahabatku dan Jaehyun. Sahabat kami.

“Nggak papa. Buat gue aja,” ucap Jaehyun pelan. Kami berjalan ke kasir seolah tak terjadi apa-apa. Seolah hati kami tak terasa ngilu karena mengingat Changmin.

Aku mengajak Jaehyun untuk mampir ke apartemenku. Lebih tepatnya dia yang memaksa karena aku selalu menolak untuk diajak keluar. Semenjak kepergian Changmin, aku hanya berbaring di kamar untuk tidur. Aku masih berharap ini semua hanyalah mimpi.

Apartemenku memang selalu menjadi markas untuk kami berkumpul. Alasannya karena tempat ini lebih luas dari kos mereka berdua. Jaehyun dan Changmin tinggal di area kos yang sama. Mereka selalu berboncengan naik motor tiap datang ke apartemenku sambil membawa banyak makanan.

Dan aku yang selalu menyiapkan meja. Menaruh piring dan gelas untuk mereka. Satu untukku, satu untuk Jaehyun, dan satu untuk Changmin…

Jaehyun melihatku tanpa sadar menaruh gelas ketiga di atas meja. Lagi-lagi aku lupa. Perlahan kutarik kembali gelas itu.

“Sori,” gumamku.

Jaehyun tampak ingin mengucapkan sesuatu namun urung. Ia lalu menyibukkan diri membongkar kantong belanja dan mengeluarkan amunisi untuk kami nikmati malam itu. Banyak makanan dan minuman kaleng yang ditaruh di atas meja. Aku hanya mengamatinya dalam diam. Ternyata Jaehyun juga membeli kesukaan Changmin.

Malam itu hanya Jaehyun yang banyak bicara. Menceritakan banyak hal yang sebenarnya tidak penting. Namun dari dulu ia memang begitu. Hanya saja sekarang tidak ada Changmin yang memprotes semua cerita tidak pentingnya. Lalu mereka akan bertengkar dan aku yang menjadi penonton setia.

Lamunanku buyar ketika ponsel Jaehyun berbunyi. Entah mengapa aku begitu memerhatikan obrolannya dengan seseorang di seberang sana hingga tanpa sadar tubuhku condong ke arahnya.

“Siapa, Je?” tanyaku tepat setelah Jaehyun memutus sambungan.

“Itu, kakak gue, biasalah. Nanyain kapan bisa pulang ke rumah.”

Ada kecewa yang terbersit saat mendengar jawaban Jaehyun. “Oh- gue kira…”

Jaehyun mengangkat alisnya. “Lo kira?”

“Nggak. Nggak papa.”

“Lo kira?” ulang Jaehyun. Matanya memicing ke arahku. Namun aku tak menjawab. “Lo kira siapa, Ju?”

Kebisuanku akhirnya memecah emosi Jaehyun. Ia menggebrak meja dengan keras sebelum menarik rambutnya frustrasi.

“Anjing, lah! Lo kenapa sih, Ju!? Lo berharap apa? Hah? Berharap Changmin yang telfon gue barusan? Iya?” Jaehyun mendesis marah. “Changmin udah dikubur dalem-dalem. Lo liat sendiri. Lo juga ada di sana, di sebelah gue!”

“Gue tau.”

“Kalo lo tau, kenapa lo masih kayak gitu tadi? Kenapa lo bersikap seolah-olah Changmin masih ada? Beliin minum dia, nyiapin gelasnya. Kemaren juga lo berusaha ngehubungin nomor dia, kan? Nyokapnya yang ngasih tau gue sambil nangis!”

Aku hanya mendengarkan luapan emosi Jaehyun tanpa memberikan jawaban. Sepertinya memang sedari tadi ia menahan diri hingga akhirnya lepas kendali.

“Lo bangsat.” Suara Jaehyun memelan karena isak tangisnya mulai muncul. Matanya memerah. “Bukan cuma lo doang yang kehilangan Changmin, Ju! Gue! Gue juga! Dan gue nggak mau kehilangan sahabat gue yang lain!”

Aku menunduk, menolak untuk menyaksikan kerapuhan Jaehyun di depan mataku. Aku tidak ingin melihat air matanya.

“Sejak Changmin nggak ada, gue belom pernah liat lo nangis. Bahkan di hari pemakaman dia, lo juga nggak netesin air mata setitik pun. Sebenernya apa sih yang lo rasain, Ju? Hm? Gue lebih mending liat lo nangis kayak anak kecil daripada liat lo jadi mayat hidup kayak gini.”

Entah apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak bisa menjawab karena aku benar-benar tidak tahu. Aku memang sedih. Sedih sekali hingga tak terukur perasaan ini. Dan aku memang tidak menangis saat tubuh Changmin perlahan-lahan tenggelam oleh tanah yang basah. Aku hanya tidak ingin menangis.

Jaehyun pamit untuk pulang sebelum aku sempat menyadari bahwa aku terlalu lama larut kembali dalam pikiranku sendiri. Aku mengantarnya hingga ke pintu, dan sebelum Jaehyun menghilang aku sempat bertanya.

“Je, emangnya salah ya kalo gue masih berharap ini semua cuma mimpi? Emangnya salah kalo gue pengen ketemu Changmin lagi? Gue pengen liat dia buat terakhir kali, Je. Meskipun gue harus ngorbanin apapun.”

“Emangnya lo mau ngapain kalo bisa ketemu dia lagi?”

“Gue… Gue pengen dia tau kalo selama ini gue sayang sama dia. Lebih dari seorang sahabat.”


Pagi itu aku terbangun oleh gaduh suara yang membuat pusing kepalaku makin mendera. Aku lupa pukul berapa aku akhirnya bisa tertidur semalam. Setelah Jaehyun pulang, aku memesan lebih banyak kaleng bir untuk mengalihkan pikiranku.

“Juuu! Juyeonnn!”

Suara Changmin memanggil-manggil. Aku mengerang pelan. Rupanya efek alkohol semalam terlalu hebat untuk kepalaku. Perlahan aku bangkit dari ranjangku demi mencari segelas air.

“Juuu!!”

Suaranya masih belum hilang. Makin berdenging di telinga. Aku menyeret kakiku menuju dapur. Tanganku meraba-raba sebab mataku belum terbuka sempurna. Hingga akhirnya aku berhasil menjangkau meja dapur.

“Ya ampun, Juyeon! Semalem lo abis minum sama Kak Jaehyun, ya? Habis berapa kaleng?”

Ada sesuatu yang menusuk menembus kepalaku untuk sepersekian detik. Sakit sekali.

“Satu, dua, …sepuluh!?”

Aku memukul kepalaku beberapa kali. Kemudian reda. Lalu mataku akhirnya melihat dengan jelas meja yang masih berantakan hasil ngobrol semalam. Ada seseorang yang tengah membereskan kaleng-kaleng bir minumanku.

“…Changmin?” bisikku.

Ia benar-benar seperti Changmin. Memasukkan sampah makanan dan minuman ke dalam kantong plastik lalu berjalan ke sana kemari. Ada hembusan angin tiap kali ia melewati tempat aku berdiri.

“Changmin?” panggilku lagi.

Ia akhirnya berhenti untuk menoleh padaku. “Apa? Air putih?”

Aku mengikuti perpindahan langkahnya dengan kedua mataku kala ia mengambilkan segelas air putih yang menjadi tujuanku ke dapur, yang akhirnya terlupakan. Kemudian ia berdiri di depanku sambil menyodorkan segelas penuh air.

“Nih.”

Aku masih mematung tak berkutik. Sosok di depanku ini benar-benar mirip dengan Changmin. Tak sabar ia akhirnya menarik satu tanganku dan melesakkan gelas dalam genggamanku.

“Gue harus buru-buru bersihin tempat lo, nih. Sebelum Kak Jaehyun dateng.”

Tak lama kemudian suara bel pintu berbunyi.

“Ck, tuh kan! Baru juga diomongin. Kayaknya dia emang beneran punya indra keenam, deh.”

Tergesa aku menaruh gelas yang bahkan belum kusentuh isinya dan bergegas mengikuti langkah Changmin. Begitu sampai di pintu depan, aku melihat wajah Jaehyun yang sumringah.

“Jaehyun.”

“Hoi, Ju! Beler banget muka lo. Kebanyakan minum, sih.”

“Emang semalem lo nggak ikut minum, Kak?”

Setelah melepas sepatunya, Jaehyun menghampiri Changmin dan menoel hidungnya. “Dikittt!”

Aku masih berusaha memroses apa yang sebenarnya terjadi. Jaehyun tampak biasa saja melihat keberadaan Changmin. Tidak, dia terlihat begitu ceria. Maksudku, ia tidak terlihat kaget sepertiku. Apa aku masih bermimpi?

“Ju, sumpah deh. Lo mending duduk terus abisin air putihnya biar nggak linglung. Loh, mana gelasnya tadi?”

Changmin kembali ribut mengambilkan gelas yang kutinggalkan begitu saja dan menyodorkannya padaku lagi. Mau tak mau aku meminumnya hingga tandas. Kerongkonganku terasa lega dan kepalaku jadi lebih ringan.

Dan Changmin tetap ada.

“Kata gue lo mandi sih, Ju. Biar segeran dikit,” celetuk Jaehyun.

“Iya,” timpal Changmin setuju. “Lo pucet, tau. Buruan gih, mandi. Biar sekalian lo selesai, gue juga selesai masakkin sarapannya. Terus makan, deh.”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Nggak. Gue nggak mandi.”

“Dih, jorok tau!” Changmin mengernyitkan hidungnya lucu. Ya Tuhan, aku hampir menangis. “Kalo nggak mandi nggak dapet jatah sarapan.”

Aku mendekat ke arah Changmin untuk menangkap pergelangan tangannya erat-erat. Changmin melebarkan matanya terkejut atas tindakanku yang tiba-tiba.

“Lo beneran…nyata?” desisku.

“Yaa emang apaan? Hologram? Robot? Apa, sih?”

Serta-merta aku menarik tubuh Changmin dan kurengkuh dengan kedua lengan. Sangat erat. Aku tak sadar wajahku sudah basah oleh air mata yang tak mau berhenti. Yang harusnya tumpah saat pemakaman Changmin, kini baru membanjir.

Changmin nyata dan raganya dapat kupeluk. Aku bersumpah tidak ingin melepasnya lagi kalau bukan karena Changmin yang mengeluh kehabisan napas. Baik Jaehyun maupun Changmin tak berkomentar atas sikap anehku barusan. Mungkin mereka mengira aku sedang mengalami sesuatu yang buruk.

Aku memang mengalaminya.

Setengah jam kemudian mereka berhasil menyuruhku masuk ke kamar mandi, dengan syarat Changmin harus tetap tinggal di luar pintu kamar mandi. Dan bersuara. Terserah ia mau bernyanyi atau berteriak sekalipun. Yang jelas aku harus mendengar suara Changmin sampai aku selesai mandi. Permintaan yang aneh, tapi aku takut ia menghilang lagi.

“Udah turutin aja, kayaknya Juyeon abis mimpi buruk,” cetus Jaehyun pada Changmin.

Bukan hanya sekedar mimpi buruk. Tapi akhir dari duniaku.


Di sofa ruang tengah aku duduk bersama Jaehyun. Changmin masih sibuk berkutat di dapur karena tadi aku menghalangi rencananya memasak. Jaehyun bermain dengan ponsel meski aku tahu sebenarnya ia diam-diam mengamati gerak-gerikku.

“Je,” panggilku tiba-tiba yang membuat ponsel Jaehyun hampir terlempar dari tangannya. “Lo inget nggak semalem kita ngapain?”

“Semalem kita kan ngobrol lama banget. Terus lo pesen bir banyak-banyak sampe lo tepar.”

Aku mengusap wajahku berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.

“Gue beneran abis mimpi jelek banget, Je,” desahku.

Jaehyun mengabaikan ponselnya dan beringsut ke dekatku. Ia berbisik, “Kenapa, sih? Lo mimpi apa?”

Aku menoleh ke arah dapur, melihat punggung Changmin yang sedang menunggu masakannya matang.

“Gue mimpi.” Suaraku pelan, hanya cukup didengar berdua. “Kalo Changmin nggak ada.”

Jaehyun menatapku lama sebelum menjauh dariku. Ia menggeleng pelan. “Mimpi lo jelek banget.”

Aku menyetujui ucapannya. Mimpi yang begitu buruk. Namun, itu hanya mimpi. Setidaknya Changmin masih ada di sini. Di depan mataku dan dapat aku sentuh.

Sepanjang hari itu aku tak dapat melepas fokusku dari Changmin. Bermimpi akan kehilangannya membuatku sadar bahwa aku sangat menyayanginya. Aku menyukai senyumnya, matanya yang berbinar tiap kali ia bercerita, tangannya yang tak henti bergerak tiap ia antusias menjelaskan sesuatu, tawanya yang memenuhi ruangan tiap Jaehyun bertingkah, caranya menyebut namaku…

“Ju? Juyeon?”

Aku tersadar dari lamunan. Air keran wastafel masih mengucur di depanku.

“Mau dibantuin, nggak?” tawar Changmin, melihat tumpukan piring kotor yang harus aku cuci. “Kalo nggak, gue mau balik bareng Kak Jaehyun.”

“J-Jangan ke mana-mana.” Secepat kilat aku menahan tangannya. “Maksud gue- Iya, bantuin gue cuci piring.”

Changmin mengerutkan keningnya, menatapku seolah aku adalah orang aneh. Ia mendengus geli sambil menggeleng lalu mulai menyingsingkan lengan baju.

“Lo bikin gue takut deh, lama-lama,” komentarnya.

“Sori.”

Kami berdua mulai mencuci piring dalam diam. Hanya ada suara gemericik air, spons yang beradu dengan permukaan kaca, dan denting piring dan gelas yang ditaruh di rak. Samar-samar juga terdengar suara televisi yang tengah ditonton Jaehyun.

“Lo nggak papa, kan?” tanya Changmin tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Yaa lo semalem minum banyak kata Kak Jaehyun. Lo lagi ada masalah? Lo bisa cerita ke gue juga, Ju.”

Aku bahkan tak ingat kejadian semalam. Yang aku ingat hanyalah mimpi buruk itu.

“Nggak ada apa-apa,” jawabku. “Gue cuma kepikiran sesuatu yang bahkan nggak kejadian.”

“Beneran? Bukan gara-gara…” Changmin mengangsurkan gelas yang barusan dicucinya padaku. “…gue sama Kak Jaehyun pacaran, kan?”

Tanganku yang seharusnya menerima gelas dari Changmin seketika membeku dan membiarkan gelas itu terjun bebas ke lantai dan remuk berkeping-keping.

Jaehyun berlari ke dapur begitu ia mendengar pekikan nyaring dari Changmin. Ia langsung menghampiri Changmin dan menarik kedua tangannya.

“Ada yang luka?” desisnya panik, memeriksa tangan Changmin. Aku belum pernah melihat Jaehyun sekhawatir ini, selain di mimpi burukku.

“Nggak, nggak papa! Itu Juyeon-” Changmin menunjuk ke arahku yang masih mematung. “Juyeon, kaki lo kena pecahan kaca.”

Aku menunduk menatap punggung kakiku yang tergores kaca dan mulai membentuk garis merah. Tapi aku tak merasakan apapun selain jantungku yang berdentum keras hingga memenuhi telinga.

Jaehyun dan Changmin pacaran?

Sejak kapan?

Aku tak ingat lagi setelahnya bagaimana luka di kakiku telah dibalut plester, dapurku sudah bersih, dan apartemenku kembali sunyi. Hanya ada aku dan keheningan.


Pagi itu aku terbangun tanpa mimpi apapun. Aku melihat ujung kakiku yang tak terjangkau selimut. Masih ada plester luka di sana. Bangun dari rebahku, aku mengecek ponsel untuk melihat foto yang sempat diambil kemarin.

Masih ada. Foto kami bertiga saat makan.

Aku menghembuskan napas lega. Changmin masih ada.

Setelah mandi dan sarapan seadanya, aku pergi keluar apartemen. Ada tempat yang perlu aku kunjungi untuk memastikan sesuatu. Bahwa mimpi buruk itu hanyalah bunga tidur belaka.

Aku membawa langkahku menyusuri gundukan demi gundukan bernisan menuju satu titik pembuktian. Bahwa Changmin tak terlelap di sana, bahwa nama Changmin tak tertera di nisan kayu itu.

Langkahku seketika terhenti hanya beberapa meter dari gundukan tanah yang basah. Yang di atasnya tertabur bunga yang masih segar. Tiba-tiba aku merasa gugup. Kuhitung langkahku kembali hingga aku benar-benar berdiri di dekatnya. Aku menatap dalam diam makam yang masih basah itu sebelum ponselku berbunyi.

Jaehyun.

“Posisi?”

“Gue di-” Suaraku tercekat. “Gue di kafe.”

“Bagi lokasinya. Gue samperin.” Jaehyun berhenti sejenak sebelum menambahkan. “Gue sendiri.”

Aku menarik napas panjang dan menghelanya dengan gemetar. Makam itu bukan milik Changmin. Changmin memang masih ada.

Meski bukan milikku.


Jaehyun memang tak pernah berbasa-basi untuk menyampaikan maksudnya. Begitu ia duduk di hadapanku, bahkan sebelum memesan minuman, ia membiarkan dirinya bertanya langsung.

“Ju, emangnya bener? Lo sebenernya nggak setuju gue pacaran sama Changmin?”

Sebuah informasi yang masih berusaha kucerna sejak semalam terlontar begitu saja dari mulutnya. Aku bahkan tidak tahu mereka menjalin hubungan yang lebih dari sahabat, bagaimana aku bisa memberikan persetujuan atau tidak?

“Lo sejak kapan pacaran sama Changmin?” Pertanyaan itu terasa pahit di mulutku. Jaehyun menatapku seakan apa yang kutanyakan barusan adalah sesuatu yang ganjil. Kemudian ekspresi wajahnya terlihat kecewa.

“Jadi lo beneran nggak setuju.” Jaehyun menyimpulkan tanpa menjawab pertanyaanku. “Kenapa, sih? Bertahun-tahun kita kenal dan lo masih nggak bisa percaya kalo hubungan gue sama Changmin nggak akan ngerusak persahabatan kita?”

Lucu sekali. Bertahun-tahun kami bersahabat dan Jaehyun tak menyadari aku memendam perasaan untuk Changmin. Yang harus selalu aku pendam karena aku tak mau menyakiti persahabatan kami.

“Dari kemaren Changmin kepikiran lo terus, asal lo tau,” lanjut Jaehyun. “Dia takut lo merasa terasing karena hubungan dia sama gue. Semenjak gue macarin Changmin, dia selalu gelisah tiap pergi berdua gue. Takut kalo lo tau dan nganggep kami berdua sengaja ninggalin lo. Kemaren juga Changmin harusnya berangkat ke apartemen lo bareng gue. Tapi dia milih ke tempat lo duluan, kan? Segitu pedulinya Changmin sama perasaan lo. Kenapa lo nggak bisa ngelakuin hal yang sama?”

Kepalaku terasa pening. Aku menekan-nekan pangkal hidungku. Aku bahkan tidak berbuat apapun yang menyakiti Changmin. Aku tidak akan pernah.

“Kapan sih, Je, gue nggak peduli sama Changmin?” lirihku. “Gue sayang sama dia.”

“Kalo gitu buktiin kalo lo juga bahagia sama keputusan yang dia pilih.”

“Emangnya gue ngapain?” Emosiku mulai tersulut. Aku menyorot tajam wajah Jaehyun.

“Stop bertingkah aneh sama Changmin. Berhenti bikin dia ngerasa bersalah,” tegas Jaehyun.

Aku menggelengkan kepalaku tak mengerti. Bibirku terbuka namun tak ada sepatah kata yang dapat kuucap. Aku merasa Jaehyun semakin melantur.

“Jujur ya, Ju.” Kini suaranya merendah. “Sebenernya gue ngerasa kalo mimpi lo itu… cerita yang lo buat sendiri. Nggak cuma sekali lo bilang ke gue soal mimpi buruk tentang Changmin, tapi habis itu lo selalu pura-pura lupa.”

“Maksud lo-”

“Jadi gue minta tolong sama lo, Juyeon. Biarin Changmin bahagia sama keputusannya tanpa perlu merasa bersalah. Dia masih tetep sahabat lo, sama kayak gue.”


Aku merasa seperti bangun dari mimpi buruk untuk masuk ke mimpi buruk yang lain. Aku mencoba mengingat lagi mimpi tentang kematian Changmin yang mulai kabur dari memori. Kesedihannya masih terasa nyata setiap kali kepalaku memutar kenangan itu. Aku mempererat pejaman mataku demi satu persatu kepingan memori itu terputar jelas. Mataku mulai terasa panas. Hingga kemudian…

Gue pengen liat dia buat terakhir kali. Meskipun gue harus ngorbanin apapun.

Setetes air mataku jatuh ke pangkuan begitu aku membuka mata. Napasku memburu tak beraturan. Kepalaku berputar hebat.

Aku tak tahu sejak kapan aku telah keluar dari apartemenku dan berlari menyusuri jalanan. Udara malam itu sangat dingin menyerang kulitku. Kakiku terus berlari hingga napasku hampir habis, namun aku tidak peduli. Aku terus melaju tanpa henti.

Pintu kaca itu kubuka dengan satu dorongan kuat yang membuat orang-orang di dalamnya menoleh sejenak ke arahku. Tapi perhatianku hanya tertuju pada seseorang.

Changmin tampak terkejut melihatku muncul di kafe tempatnya bekerja paruh waktu. Namun keterkejutannya hanya sementara. Ia kemudian tersenyum. Cerah.


“Hei, sori lama.”

Aku membalikkan badan ke arah Changmin yang baru saja selesai dengan shift-nya. Aku menyambutnya dengan senyum seraya mengangsurkan sekaleng minuman dingin yang sempat kubeli di minimarket selagi menunggu.

“Makasih.” Changmin menerima kaleng itu dan meneguknya. Kami berdua bersandar di pagar jembatan sambil menikmati aliran sungai di bawah kami.

“Capek?” tanyaku.

Changmin menoleh ke arahku kemudian menggeleng. “Enggak. Nggak capek.”

Satu hal yang aku kagumi dari Changmin. Ia tak pernah mengeluh akan hidupnya. Meski ia harus pontang-panting mencari uang demi memenuhi kebutuhannya, ia selalu bersyukur. Atas hal sekecil apapun.

“Tumben lo ke sini sendirian. Biasanya sama Kak Jaehyun.” Changmin berhenti sejenak sebelum menambahkan. “Tapi gue seneng, sih.”

Aku memiringkan kepalaku mendengar ucapannya. “Gue pengen liat lo.”

“Hm?” Changmin bergumam seolah mendengar sesuatu yang lucu. Ia berjalan mendekat hingga benar-benar berdiri di depan wajahku lalu berjinjit untuk meraih sisi wajahku dengan tangannya yang dingin. “Udah keliatan belom?”

Aku membiarkan wajahku berada dalam tangkupan tangan Changmin. Aku ingin ia memegang wajahku lama. Aku ingin merasakan sentuhannya lagi.

“Changmin, gue sayang sama lo,” ucapku pelan. “Maaf kalo selama ini gue jarang ngasih tau lo itu. Nggak pernah, malah.”

Untuk sepersekian detik aku menyaksikan pendar kesedihan yang melintas di mata Changmin, sebelum ia membalutnya dengan senyum hangat.

“Lo ke sini buat ngomong itu doang?” tanya Changmin setelah ia menarik kembali tangannya dan mengalihkan perhatiannya ke permukaan sungai. “Disuruh Kak Jaehyun, ya?”

Aku buru-buru menggeleng. “Jaehyun nggak nyuruh apa-apa.”

“Terus? Kenapa tiba-tiba bilang gitu? Bukan lo banget, tau.”

“Gue… Gue cuma pengen lo tau.”

Changmin tertawa kecil. Ia menyembunyikan sebagian wajahnya di balik lengannya yang terlipat. Matanya masih terfokus pada satu titik di kejauhan.

“Mana mungkin, sih, gue nggak tau? Yang dengerin cerita gue, yang mastiin gue nggak telat makan, yang langsung nelfon gue tiap kali gue minta tolong di grup, yang ngingetin gue kalo dunia, tuh, lebih luas dari rasa khawatir gue. Itu semua selalu lo, Ju.”

Aku menatapnya yang tengah berbicara dengan sorot mata yang berpendar nanar. Kakiku hampir melangkah mendekatinya kala ia menoleh ke arahku, tersenyum getir.

“Lo bikin gue sedih, Ju,” ucapnya lirih. “Lo ngomong gitu kayak lo mau pergi jauh.”

Ada sesuatu yang mencekik tenggorokanku. Sakit sekali. Membuatku sulit untuk mengucap kata bahwa kamulah yang meninggalkanku pergi. Aku tak pernah ke mana-mana, Changmin.

“Lo inget, nggak, waktu awal-awal kita temenan? Gue lagi berantem sama Kak Jaehyun dan lo nyamperin gue. Padahal lo juga belom lama kenal sama gue. Tapi lo rela buat dengerin cerita dari sudut pandang gue duluan ketimbang Kak Jaehyun yang udah lama lo kenal. Terus besoknya tiba-tiba Kak Jaehyun dateng buat minta maaf.”

Aku membiarkan Changmin melanjutkan ceritanya karena suaraku masih tertahan di balik tenggorokan. Kali ini senyumnya cerah.

“Dia minta maaf sama gue. Padahal selama gue temenan sama Kak Jaehyun, dia yang paling gengsi buat ngaku salah. Dan itu semua gara-gara lo, Ju. Mulai saat itu gue yakin kalo lo bakal jadi peran penting di pertemanan kita. Dan gue nggak salah.”

Changmin menarik napas lalu menarik dirinya dari pagar jembatan. Ia berjalan ke arahku dan berdiri tepat di hadapanku, cukup untukku melihat dengan jelas wajahnya.

“Changmin, gue-” Suaraku berusaha menerobos tenggorokan yang rasanya makin tersumbat perih. “Gue minta maaf. Gue egois. Gue pengen liat lo cuma demi ngasih tau perasaan gue. Semuanya tentang gue. Tentang gimana gue takut kehilangan lo. Gue nggak mikirin perasaan lo. Gue nggak nyoba nempatin diri gue di posisi lo. Gue nggak-”

Aku tak menyadari air mataku telah berlinangan. Aku terisak hebat bagai bocah kecil yang tersesat ketika Changmin memelukku erat. Ia mengusap punggungku dengan lembut, menenangkan. Kemudian aku mendengar ia berbisik pelan.

“Lo nggak akan kehilangan gue, Juyeon…”

Aku mengangkat kedua lenganku untuk membalas pelukannya. Kulingkarkan lenganku ke sekitar tubuhnya. Namun yang kupeluk hanyalah angin.


Suara dering ponsel yang nyaring membangunkanku. Aku membuka mata dan melihat langit-langit kamarku. Dadaku sesak dan jantungku bergemuruh. Ponselku berdering tanpa henti, seolah memanggilku untuk membisukannya.

Jaehyun.

“Masih molor lo, ya?” Seruannya langsung menyambut telingaku. “Gue di depan pintu. Bukain.”

Jaehyun menutup panggilan tanpa menunggu respon dariku. Dengan kepala berdenyut aku menyeret kakiku menuju pintu.

“Udah jam berapa, nih?” gerutu Jaehyun setelah kepalanya menyembul dari balik pintu dan berjalan masuk melewatiku. Ia menghempaskan dirinya di atas sofa sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Buruan siap-siap keburu siang. Kita belom beli bunga juga.”

Ah. Benar.

Aku memutar langkahku menuju kamar mandi sebelum Jaehyun tiba-tiba bertanya.

“Kaki lo kenapa, tuh?”

Sebelum aku mengerti apa maksudnya, tatapanku telah lebih dulu jatuh pada kakiku. Ada plester yang membalut punggung kaki kiriku. Melihat itu, seketika ada gelenyar yang merambat ke sekujur tubuhku.

“Bunga matahari,” gumamku.

“Hah?” Jaehyun memicingkan mata seakan tak mengerti maksud ucapanku.

“Beliin bunga matahari buat Changmin.”

“Oh, iya, iya. Bunga matahari.” Jaehyun bergumam sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Sudah lupa akan plester luka di kakiku.

Aku melanjutkan langkah kakiku. Kali ini terasa lebih ringan. Changmin benar. Aku tidak akan kehilangannya. Ia akan selalu ada. Di sini. Di dalam hati dan pikiranku, serta Jaehyun.

Hari ini, sahabatku Changmin berulang tahun. Namun ia tak akan menua. Dan aku akan merayakan kebahagiaannya dengan suka cita, tanpa air mata.