“Lah, lo di sini juga? Sama siapa?”

Biru menunjuk seseorang di belakang punggungnya yang kemudian datang menghampiri dengan wajah masam. Padahal tadinya Bintang sudah excited ingin merayakan ulang tahunnya berdua Biru di kafe yang baru dibuka seminggu ini, tapi begitu sampai di lokasi pengunjungnya membludak dan Biru melihat dua wajah familiar yang lebih dulu ada di sana.

“Oh, ada Bintang Pantura!” Hanan langsung cengengesan melihat ekspresi Bintang yang makin keruh karena tak hanya kafenya yang penuh, dia malah harus ketemu manusia rese itu di sini.

“Kalo tau kalian mau ke sini, gue pesenin tempat. Nggak bilang, sih,” celetuk Arka yang sedang menikmati makanannya.

“Gue nggak tau kalo sampe harus reservasi dulu,” balas Biru sebelum menoleh ke pacarnya. “Gimana? Mau cari tempat lain?”

Bintang cemberut. “Udah sampe sini tapi… Eh, Nan. Lo udah mau kelar, kan? Gantian.”

“Gue ngantre udah dari sore, enak aja lo ngusir-ngusir.”

“Udah join aja sini,” tawar Arka. “Masih cukup buat berempat.”

Mau tak mau mereka akhirnya berbagi meja dengan Hanan dan Arka karena Bintang sebenarnya sudah kepengen sekali mencoba waffle yang katanya enak itu. Sayang kalau harus menunda lain kali. Sambil menunggu pesanannya datang mereka mengobrol.

“Kok, bisa pas kita ketemu di sini, ya? Kalian emang udah ngerencanain mau ke sini?” tanya Arka.

“Ngerayain ulang tahunnya Bintang, kan,” ucap Biru, tersenyum pada cowok yang duduk di sebelahnya.

Hanan yang duduk di seberang Bintang langsung menepukkan tangannya lalu memberi selamat. “Wah, iya! Hari ini, ya? Habede Bibin!!”

“Udah kemarin, kali,” cetus Bintang namun tetap disambutnya uluran tangan Hanan. “Cuma baru sempet ketemu Biru hari ini.”

“Padahal di grup juga udah pada ngucapin. Gimana sih, kamu?” Arka menyindir Hanan yang kemudian dibalas dengan rangkulan erat. “Sori, ya. Harusnya bisa nge-date berdua aja buat ngerayain ultah.”

“Nggak papa kok, Ka. Ramean juga seru,” kilah Bintang. Biru mengusak pelan rambut pacarnya sambil tertawa kecil. Dia tahu Bintang tadinya dongkol karena rencana manisnya buyar.

Obrolan terus berlanjut hingga pesanan datang. Mata Bintang langsung berbinar begitu melihat piring berisi tumpukan waffle di hadapannya. Tanpa menunggu lagi ia mengiris satu potongan kecil dan memasukkannya ke mulut. Ternyata review orang-orang tidak berlebihan. Memang seenak itu. Bintang menyuapkan sepotong pada Biru dan cowoknya itu setuju kalau rasanya memang lebih enak dari waffle yang pernah ia coba.

“Pantesan rame banget, ya, walaupun baru buka. Menunya emang enak-enak semua,” komentar Arka setelah mencoba pesanan Bintang dan Biru.

“Pengen nyobain semua menunya, deh,” ucap Hanan. “Tapi dibayarin yang ultah.”

Bintang langsung memutar bola matanya sambil menjulurkan lidah. “Malas.”

Selagi Hanan dan Bintang berdebat, Biru diam-diam membersihkan dagu Bintang yang terkena saus. Hanan menyadari kelakuannya lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Kemesraan iniii janganlah cepat berlaluuu.”

Bintang berusaha menyambar ponsel Hanan namun sia-sia. Ia harus rela kalau adegan barusan bakal muncul di Instagram story Hanan.

“Fotoin yang bener lah, Nan,” perintah Arka. Ia membantu mengarahkan ponsel Hanan untuk membidik foto kedua temannya dengan bagus.

Biru pamit ke toilet setelah sesi foto-foto itu selesai. Kemudian Hanan ikut menghilang dan tak lama kembali dengan segelas minuman di tangan. Ditaruhnya gelas itu di hadapan Bintang.

“Apa, nih?”

Birthday drink. Buat lo.”

“Tumben lo baik.”

“Udah buruan cobain.”

Arka yang dari tadi masih curiga dengan minuman yang dibawa Hanan tak sempat mencegah Bintang yang telah menghabiskan dua teguk minumannya.

“Enak, kan?” tanya Hanan dengan cengiran di wajah.

“Enak, sih… Tapi rasanya kayak…” Bintang mencecap lidahnya dengan dahi berkerut.

Arka mengambil paksa gelas dari tangan Bintang dan mencobanya sedikit. Sedetik kemudian ia menatap tajam pada Hanan. Dugaannya benar. Ada alkoholnya.

Biru kembali dari toilet sebelum Arka bisa memberitahu Bintang kalau minumannya mengandung alkohol. Dan ia juga tak mau jadi korban damprat Biru kalau temannya itu tahu pacarnya habis diberi minuman aneh-aneh. Arka tidak mau ikut campur. Pokoknya Hanan.

Obrolan kembali berlangsung seakan tidak terjadi apa-apa. Namun Biru dapat merasakan Bintang yang duduknya semakin merapat padanya, lengannya dipeluk erat oleh cowok itu sembari bibirnya terus mengoceh. Rasanya Bintang juga jadi lebih cerewet.

Saat Bintang mendongakkan wajahnya pada Biru dan tersenyum lebar, Biru tahu ada yang salah. Wajah Bintang terlalu merah dan Biru mencium aroma yang aneh. Ia melihat gelas yang hampir tandas isinya di hadapan Bintang. Kilat ia menyambar gelas itu.

“Kamu minum ap-” Pertanyaan Biru langsung terjawab bahkan sebelum kalimatnya selesai. Aroma yang menguar dari gelas itu terlalu mudah untuk ditebak.

“Kamu pesen ini?” tanya Biru.

“Hm?” Bintang memiringkan kepala seakan tak paham.

“Abin, kamu pesen minuman ini?” ulang Biru.

Bintang meringis. Ia menangkup wajah Biru. “Kamu ganteng banget, sih…”

“Astaga.” Biru seketika mengusap wajahnya panik. Tidak salah lagi, Bintang memang mabuk.

“Hanan yang pesen.” Arka akhirnya buka kartu, menghentikan Hanan yang tengah tertawa geli melihat tingkah Bintang.

Biru mengurut dahinya pening, tak sanggup memarahi Hanan saat itu juga. “Duh, tolol banget sih, Nan…”

“Dikit doang alkoholnya. Dikittt banget!” Hanan berusaha membela diri. “Lagian si Bintang juga suka, kok. Ya nggak, Bin?”

Tapi Bintang sudah tak mampu mencerna omongan Hanan. Ia sibuk menggelendot di lengan pacarnya.

“Dikitnya lo, tuh, seberapa,” sindir Biru tajam. Ia lalu berdiri sambil menarik pacarnya serta. “Udah ayo pulang sekarang.”

Hanan terpaksa ikut cabut setelah Arka mencubit lengannya dan beranjak mengikuti kepergian Biru dan Bintang. Mereka berhenti sejenak di parkiran kafe. Sepertinya tidak memungkinkan kalau harus membawa Bintang dengan motor. Lalu kekhawatiran lain muncul di benak Biru. Lebih tidak mungkin lagi membawa Bintang pulang ke rumahnya dengan kondisi seperti ini.

“Ah, anjing banget lo, Nan.” Biru akhirnya tak bisa membendung sumpah serapahnya. “Kalo udah kayak gini emangnya lo mau tanggung jawab? Gimana jelasin ke orangtuanya?”

“Ya, udah. Nginep aja dulu di tempat lo semalem.”

“Nggak bisa. Nyokap gue juga pasti nanyain Bintang kenapa.”

“Nginep di tempat Hanan, gimana?” usul Arka, merasa bersalah walaupun itu bukan kelakuannya. “Rumahnya lagi kosong. Nggak akan ada yang nanya.”


Biru menurunkan Bintang dari mobil yang terpaksa ia pesan untuk sampai di rumah Hanan sedangkan motornya ia serahkan pada Arka untuk dibawa. Hanan dan Arka sampai lebih dulu kemudian mereka membukakan pintu untuk Biru.

Rumah Hanan memang satu-satunya tempat yang paling aman untuk dijadikan persinggahan sementara. Biru tinggal berusaha sedikit untuk mengarang alasan pada bundanya Bintang setidaknya sampai anaknya sadar besok pagi.

“Kalo butuh air minum ambil di dapur. Terus di deket kulkas ada kotak obat kalo Bintang pusing.” Arka sempat menjelaskan sebelum menghilang bersama Hanan di kamar atas. Biru tidak perlu heran kenapa Arka hapal seluk-beluk rumah Hanan atau kenapa Arka menuju kamar Hanan dan bukannya pulang.

Setelah membaringkan Bintang ke atas ranjang dan melepas sepatunya, Biru duduk di tepi ranjang. Pacarnya terlelap setelah mengoceh nonstop di dalam mobil yang membuat supirnya sempat melempar tatapan tajam. Ketukan di pintu membuat Biru menoleh. Ternyata Hanan yang muncul dengan seringai khasnya.

“Permintaan maaf,” ucap Hanan sembari menyelipkan sesuatu ke genggaman tangan Biru.

Biru membuka tangannya. Sebungkus kondom.

“Monyet!” desis Biru keras pada Hanan yang sudah kabur.

Malam itu menjadi malam yang panjang tanpa Biru sadari. Sebab ia kira hanya butuh terlelap dan Bintang akan terjaga di esok harinya. Namun ternyata tengah malam Bintang terjaga dan membangunkan Biru.

“Biru…”

“Hm? Kenapa, Bin?”

Biru masih setengah terpejam ketika tubuhnya terasa berat lalu kulit lehernya terasa hangat. Serta-merta matanya terbuka sempurna dan ia mendapati Bintang tengah menindihnya, menggesekkan badannya.

“Abin? Kamu nggak papa?”

Bintang hanya mengerang pelan sambil tetap menggesekkan badannya pada Biru. Hidungnya mengendus leher Biru yang aromanya ia sukai.

“Mau… Biru…”

Seketika pening menyerang kepala Biru. Ia paling tidak sanggup mendengar rengekan pacarnya seperti itu. Perlahan ia bangkit sambil menahan punggung Bintang dengan kedua tangannya.

“Abin,” panggil Biru. Ibu jarinya mengusap pipi Bintang yang merah dan hangat. “You’re not sober.”

Bintang bersandar pada sentuhan Biru, terlihat nyaman. Dan ia akan lebih menyukai sentuhan Biru pada sekujur tubuhnya.

“Abin mau Biru…” lirih Bintang. Ia mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada Biru. Tak terelakkan bagi Biru untuk membalas ciumannya. Semakin lama Bintang menuntut lebih. Ciumannya semakin dalam hingga Biru kembali rebah ke ranjang. Lalu tanpa aba-aba Bintang berusaha menanggalkan pakaiannya. Ia kepayahan meloloskan kaosnya dari kepala.

“Abin, Abin-” Upaya Biru untuk mencegah aksinya sia-sia saja. Akhirnya ia terpaksa membantu pacarnya melepas kaosnya. Namun ketika Bintang beralih untuk mengurai ikat pinggangnya, tangan Biru sigap menahannya. “Abin, kamu ngapain?”

Bintang menatap Biru dengan matanya yang sayu. “Sakit…”

“Apa yang sakit?” Biru langsung waspada. Pandangannya jatuh pada tangan Bintang yang mencengkram ikat pinggangnya dengan kuat. Seketika Biru tersadar. Ia mengumpat dalam hati sebelum membantu Bintang melepaskan celananya hingga cowok itu benar-benar tanpa busana.

Milik Bintang sudah tegak dan merah. Pantas saja dari tadi Bintang berusaha menggesekkan badan padanya.

“Aku bantuin, ya.” Biru menangkup milik Bintang dengan satu tangannya lalu mulai mengusap pelan. Bintang menarik napas cepat, ia ikut bergerak lantaran tak sabar.

Gerakan tangan Biru semakin lama semakin cepat seiring dengan napas Bintang yang terengah. Bintang kemudian jatuh ke pelukannya setelah keluar di tangan Biru.

Untuk beberapa saat Bintang diam di dekapan Biru hingga cowok itu mengira pacarnya kembali terlelap. Namun sebuah bisikan di telinganya membuat dirinya terkejut.

“Biru. Abin mau dimasukkin Biru.”

Bisikan itu mengirim gelenyar ke sekujur tubuh Biru. Pening yang datang sekarang dua kali lipat.

“Abin, please don’t test me. I’m not fucking you while you’re drunk.”

“Aku nggak… Aku sayang Biru… Aku mau Biru.”

Faktanya adalah Biru sudah terangsang sejak Bintang terjaga dan menindih tubuhnya. Kini pilihannya hanya menyelesaikan urusannya sendiri di toilet atau memenuhi permintaan Bintang. Biru melirik bungkus kondom dari Hanan di atas nakas sebelum menentukan pilihannya.

Tubuh Bintang rebah di ranjang ketika Biru menukar posisi mereka. Tanpa diminta, Bintang melebarkan kakinya untuk Biru yang membuat pacarnya itu lagi-lagi harus menahan umpatan. Bintang menutup mulutnya dengan punggung tangan kala Biru mulai memasukkan miliknya.

“Jangan ditutupin mukanya. Aku mau liat.”

Biru menyingkirkan tangan Bintang dan menahannya di atas kepala. Ia suka memerhatikan ekspresi Bintang ketika lubangnya dipenuhi. Matanya yang terpejam semakin kuat dan mulutnya yang melebar seiring Biru melesakkan keseluruhan miliknya. Biru tidak dapat menahan diri untuk bergerak.

Desahan yang meluncur dari bibir Bintang tak henti menyerang telinga Biru dan membuat tubuhnya terasa panas. Di sela-sela desah Bintang menyebutkan namanya hingga Biru merasa ia yang tengah mabuk.

“Kamu cantik banget, Sayang. Cantik…” bisik Biru sembari mengunci pergelangan tangan Bintang tetap di tempatnya. “Please keep calling my name.”

Napas Bintang tercekat ketika Biru terus menghunjamkan miliknya dan menggesek dindingnya. Rasanya nikmat hingga matanya mulai terasa panas.

“Hh- Biru… Enak.. Ah! Kamu enak banget, Biru…” rengek Bintang. Mendengar itu, Biru seakan tak memiliki pilihan lain selain mempercepat gerakannya. Biru akan berlutut meminta maaf karena saat ini ia benar-benar butuh untuk membuat Bintang menangis karenanya.

“Abin, Sayang…” Biru memanggil di sela engahannya. “Malem ini aku harus bikin kamu nangis. Dan kamu cuma boleh nangis karena aku.”

Tak sering Bintang mendapati Biru yang demanding di atas ranjang. Maka saat ia mendengar ucapan cowok itu barusan, Bintang merasa aliran darahnya berdesir hebat hingga ia hampir keluar untuk kedua kalinya. Isakannya mulai muncul oleh stimulasi yang didapat dari Biru yang tanpa ampun menggesek lubangnya.

“Biru, aku-” Bintang terisak. Air matanya meleleh ke pipi. “Aah- Ah- Biru!”

Milik Bintang menyemburkan cairan putih sebelum Biru membalikkan tubuhnya dan kembali memasukinya dari belakang. Bintang terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna apa yang terjadi ketika kedua lengan Biru merengkuh tubuhnya erat dan menghantam bagian dalam dindingnya tanpa jeda. Tangis dan desahnya teredam oleh bantal yang mengubur wajahnya.

Tangan Biru mendekap Bintang sangat erat hingga panasnya kulit mereka bertemu. Bintang merasakan sensasi nyeri di bahunya meski ia tak sanggup menyadari bahwa Biru telah menggigit bahunya demi menahan gejolak yang semakin membuncah.

“Nangis, Sayang… Ahh- Nangis buat aku.”

Tubuh mungil Bintang benar-benar hilang di bawah rengkuhannya. Getaran akibat tangisnya terasa di dalam pelukannya. Untuk sesaat timbul sebersit kepuasan dan kebanggaan atas apa yang dilakukannya. Bahwa ia bisa membuat pacarnya menjadi seperti ini.

Bahwa, ternyata, mendominasi Bintang adalah keinginan terpendam yang bahkan baru Biru sadari.

Lalu kepalanya mulai penuh dengan hasrat yang tak mampu lagi Biru kendalikan. Gerakan pinggulnya tak sedikitpun melambat demi merasakan nikmat himpitan lubang pacarnya. Ia merasakan lubang itu berkedut lagi, tanda Bintang mungkin akan kembali melepas nikmat.

“Abin mau keluar lagi? Hm?” bisik Biru.

Tenggorokan Bintang hanya mampu meloloskan isakan dan erangan. Badannya sudah tidak dapat bergerak sebab pelukan Biru menguncinya. Sebentar lagi ia akan keluar tanpa disentuh.

Desahan panjang mengiringi Bintang yang menyembur kuat beberapa kali. Tubuhnya seketika melemas seakan tak bertulang. Biru menahan pacarnya hingga ia akhirnya bertemu klimaksnya sebelum ambruk di atas punggung Bintang. Ia membiarkan dirinya diam sejenak di posisi itu sembari menunggu oksigen kembali memenuhi dadanya lalu mencabut miliknya. Bintang mengerang pelan.

Hati-hati Biru menarik tubuh Bintang hingga ia dapat melihat wajahnya lalu mulai menciuminya. Dari seluruh wajahnya yang basah oleh tangis hingga leher dan bahunya kemudian kembali ke wajahnya.

Look at you. You’re so fucking beautiful.” Biru menelan ludah, memandangi wajah Bintang yang sayu menatapnya. “I’m the luckiest man alive, Abin.”

Bintang tersenyum lemah. Terlalu letih untuk bersuara apalagi mengulurkan tangannya pada Biru. Namun ia yakin Biru tak perlu mendengar ucapannya untuk tahu bahwa ia merasakan hal yang sama.

Kelopak mata Bintang mulai berat hingga ia akhirnya terpejam. Biru menyaksikannya terlelap, lalu memberikan ciuman lembut di keningnya.

Are you gonna forget everything when morning comes?”