Suara derit pintu membuat Arka terlonjak dan seketika membalikkan badan. Yang ditemui adalah wajah Hanan yang menyembul dari balik pintu kamarnya, lengkap dengan cengiran tanpa dosanya.
“Astaga. Kaget, tau!” protes Arka.
Hanan melangkah masuk ke kamar Arka sambil menutup pintu di belakangnya.
“Kamu lama banget, sih.” Hanan memprotes balik pacarnya yang masih berkutat mencari jaket di lemarinya.
“Ya, tunggu aja di kursi depan. Ngapain ikutan naik?” Wajah Arka berubah cerah begitu ia menemukan benda yang dicarinya. “Ketemu!”
“Khawatir kamu kenapa-napa. Kalo kamu tiba-tiba pingsan terus aku nggak tau, gimana?” kilah Hanan sembari memeluk Arka dari belakang dan membenamkan wajah di ceruk lehernya.
Arka menutup lemari pakaiannya sambil memutar bola mata. Pacarnya mulai lagi. Namun saking seringnya hal itu terjadi, Arka sudah tak ambil pusing lagi untuk meladeni tingkah aneh pacarnya. Ia mengabaikan ocehan Hanan dan menyeret kakinya menuju pintu.
Tapi Hanan memang manusia paling menyebalkan sedunia. Ia sengaja tak melepas pelukannya hingga menghambat langkah Arka.
“Hanan berattt. Lepas dulu, ah.”
“Nggak mau. Nanti Arka kabur.”
“Kabur apa sih- Jadi pergi, nggak!?”
Omelan Arka tidak mempan karena Hanan malah menggiring cowok itu hingga keduanya jatuh ke atas ranjang milik Arka.
“Aduh! Hanannn!”
Yang jadi sumber kekesalan hanya cekikikan. Lengannya mengunci tubuh Arka hingga cowok itu tak dapat bergerak. Otomatis Arka juga tak bisa berontak kala Hanan menciumi leher dan tengkuknya, menggesekkan ujung hidungnya di sana sambil menghirup aroma tubuh pacarnya.
“Suka banget sama baunya pacarku,” gumam Hanan, masih mengendus tengkuk Arka yang membuat cowok itu merasa geli.
“Aku lagi nggak pake parfum. Ngeledek, ya?” tuduh Arka.
“Kok ngeledek? Nggak. Emang enak bau kamu.”
“Aneh. Kamu tuh aneh banget, tau nggak?”
“Iya. Udah denger jutaan kali.”
Hanan tidak peduli. Mau pacarnya menyebutnya aneh atau apapun, Hanan memang suka semua-muanya tentang Arka. Dari yang paling masuk akal sampai hal-hal remeh sekalipun.
“Hanan, ini kita jadi pergi apa nggak?” cetus Arka karena Hanan tak menunjukkan tanda-tanda ingin melepasnya.
Hanan membalas dengan gumaman. “Bentar, ya. Bentarrr aja. Aku pengen peluk kamu.”
Rengkuhan Hanan seketika mengerat ketika Arka mencoba untuk membebaskan diri. Memang sial bagi Arka yang tenaganya tak sebanding dengan Hanan walaupun dia memperbanyak diri jadi sepuluh orang sekalipun.
“Hayo, jangan coba-coba kabur,” ancam Hanan.
“Iya, enggakk. Aku nggak bisa napas, nih.”
Satu hal yang selalu Arka rasakan, detak jantung Hanan yang berirama cepat mengetuk melalui punggungnya. Hanan selalu seperti itu saat memeluknya. Dan Arka menyukainya. Ia suka merasakan riuh detak jantung Hanan. Seperti mengetahui bahwa cowok itu hidup dan hidup untuknya.
Arka berjengit merasakan telinganya tiba-tiba dilingkupi hangat. Darahnya berdesir saat Hanan menggigiti cuping telinganya dengan bibir.
“Kenapa gigit-gigit, sih, ah!” omel Arka. Hanan yang telah melonggarkan pelukannya berhasil membuat Arka menghalau Hanan dengan tangannya. Namun kebebasan itu tak berlangsung lama sebab Hanan dengan sigap mengunci pergelangan tangan Arka.
“Kamu kalo lagi disayang-sayang jangan rewel, dong,” pinta Hanan.
“Disayang- Itu kamu gigit!”
“Kan nggak sakit?”
“Tapi geli.”
“Habis kamu gemes banget, sih. Jadi pengen gigitin semuanya.”
“Emang kamu manusia paling anehhh.”
“Ya, udah. Kalo nggak mau digigit maunya apa? Dicium?” Hanan memiringkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Arka lebih jelas. “Pilih mana? Digigit apa dicium?”
“Pilihan yang nggak menguntungkan banget,” cibir Arka.
Hanan tergelak sebelum memposisikan dirinya di atas Arka. Ia tahu tanpa memilihpun pacarnya itu juga tidak akan menolak. Maka mulai dijatuhkanlah hujan cium di seluruh wajah Arka itu. Deras. Jatuhnya di setiap titik tak hanya sekali. Di kening, pelipis, kelopak mata, lekuk rahang, pucuk hidung, kemudian bibir. Banyak sekali. Berkali-kali.
“Mm- Hanan.”
Gestur tangan Arka yang menahan tubuh Hanan membuatnya mengerti. Ia harus ingat ini bukanlah rumahnya. Bukan tempat di mana ia bisa melakukan sesuatu sebebas hatinya. Ada aturan tak terbilang yang harus Hanan pahami. Namun Arka juga paham untuk tak membuat yang satu kecewa. Diraihnya kepala Hanan untuk rebah di dadanya, mendengar deru napas dan detak jantungnya. Tangannya lembut mengusap helai rambut Hanan dan sesekali punggungnya. Layaknya memberi pengertian bahwa ini sejauh yang bisa ia tawarkan.
“Aku cuma…” Hanan berbisik. Tangannya menyentuh permukaan ranjang, merasakan dingin di sana. “Pengen ngasih memori ke tempat ini. Biar nggak cuma aku yang rumahnya kerasa hangat dan nyaman buat aku sama kamu. Aku juga pengen kamu ngerasa nyaman di rumah, di sini. Karena ada jejak aku. Kita berdua.”
Arka bersumpah ia selalu ingin memaki Hanan untuk hal-hal yang dilakukannya, yang menurutnya menyebalkan namun tanpa ia sadari memiliki makna yang lain. Hanan memang sering melakukan sesuatu yang memicu kejengkelan Arka. Tapi untuk yang satu ini, Arka harus berusaha menarik kuat air matanya kembali agar tak menggenang di permukaan. Benar-benar sialan. Bagaimana bisa Hanan berpikir untuk membuat rumahnya terasa seperti rumah ketika Arka ada di dalamnya? Dan tak terus-menerus menjadikan rumah Hanan sebagai tempat mencari hangat?
“Nan.”
“Hm?”
“Kamu emang bener-bener manusia paling aneh yang pernah aku temuin.”
Hanan mengulum senyum. Usapan tangan Arka di kepalanya terasa hangat.