Younghoon merasa seperti baru keluar dari cangkang. Ketemu wajah-wajah asing, menghirup udara yang anehnya nggak kayak biasanya, bikin lebih lega. Selama ini Younghoon nggak punya usaha lebih buat bergaul apalagi nambah temen. Kenalannya bisa dihitung jari. Yang deket cuma satu, Juyeon. Younghoon selalu merasa kegiatan berteman itu ngabisin tenaga. Tapi entah kali ini rasanya beda. Dia masih nggak berniat buat kenalan atau nyari temen, tapi dia nggak keberatan ada di tengah keramaian itu.

Mungkin Younghoon kelewat capek buat nangisin Sangyeon tiap malem. Mungkin Younghoon merasa, ternyata fokus sama satu orang juga bisa nyakitin. Habis Sangyeon, terus apa? Younghoon nggak pernah mikir sampe situ. Younghoon bahkan nggak pernah kepikiran bakal pisah sama Sangyeon. Semua tenaganya habis cuma buat Sangyeon.

Mungkin itu semua yang bikin malem ini jadi terasa seperti angin segar. Kayak Younghoon bisa napas lagi buat pertama kalinya. Ngeliat ulang tahun Juyeon dirayain sama banyak orang. Younghoon terlalu sibuk sama rasa sedihnya sendiri sampai nggak sempat mikirin kalau Juyeon juga butuh merasa spesial di hari spesialnya.

Younghoon nggak sadar waktu bibirnya melengkungkan senyum ngeliat Juyeon yang malu-malu disodorin kue ulang tahun sama Changmin. Itu kue yang dibelinya sama Hyunjae tadi.

“Woi, jangan sampe numplek kuenya! Mahal, tuh!”

Komentar Hyunjae mengundang tawa orang-orang dan sebelum Younghoon sadar cowok itu sudah duduk bersila di sebelahnya. Younghoon tiba-tiba jadi canggung. Momen beli kue ulang tahun dan hadiah buat Juyeon yang dilakuin bareng Hyunjae tadi bikin Younghoon tahu lebih banyak soal kepribadian Hyunjae. Yang dibilang Juyeon memang nggak salah; Hyunjae orang baik. Dan bukan buat pencitraan, Younghoon bisa liat itu.

Juyeon langsung tenggelam dikerubuti banyak orang habis tiup lilin dan potong kue. Sebagian ribut minta bagian kue ulang tahun Juyeon, sebagian lagi milih buat mengisi perut yang memang sengaja dikosongin demi makan-makan malem itu. Younghoon nggak yakin harus ngapain karena dia nggak kenal siapapun selain Juyeon. Dan Hyunjae.

“Makan, yuk!” Hyunjae nepuk pundak Younghoon terus bangkit buat ngantre ambil makan. Mau nggak mau Younghoon ngekor di belakangnya biar nggak keliatan kayak anak ilang.

Acara kumpul-kumpul itu ngambil tempat di sebelah warung penyetan yang jadi favorit mahasiswa. Ada pelataran luas di mana mereka tinggal menggelar tikar terus menikmati makanan yang sudah disiapkan dalam jumlah besar. Younghoon ngambil sepotong ayam dan dua buah gorengan buat teman makan nasinya.

“Ambil yang banyak,” celetuk Hyunjae. Berbagai macam lauk sudah menggunung di atas nasinya.

“Kayak gini siapa yang bayar? Patungan?” tanya Younghoon penasaran setelah mereka akhirnya duduk buat makan.

Hyunjae nelen makanannya sebelum jawab singkat. “Gue.”

Tatapan Younghoon bikin Hyunjae ketawa tanpa berniat buat ngasih tau cowok itu apakah dia bohong atau nggak. Tapi Younghoon nggak terlalu ambil pusing. Sepanjang makan ada beberapa orang yang nyamperin Hyunjae entah buat sekedar nyapa atau ngobrol. Younghoon paham orang ini memang banyak temennya.

Tapi seseru apapun malam itu, Younghoon tetap nggak bisa keluar lama-lama. Energinya sudah hampir habis dan dia bisa ngedrop kapan saja. Masalah baru pun muncul. Gimana caranya dia pulang kalau tadi dia berangkat dijemput mobil sama Hyunjae? Nggak mungkin dia nyuruh cowok itu buat nganterin pulang, apalagi acaranya belum selesai.

“Hoon, tadi anak-anak pada bakar jagung. Cobain, yuk.”

“Hah?”

Hyunjae narik tangan Younghoon sebelum dia bisa nolak. Cowok itu ngajak Younghoon ke pojok yang banyak asap hasil bakaran arang. Bau jagung bakar mulai kecium.

“Cob, mau dong. Dua, yah.” Hyunjae meminta pada cowok yang sibuk mengipas di depan bakaran jagung itu.

“Antre. Banyak yang mau soalnya.”

“Iyaa. Eh, Hoon, kenalin ini Jacob. Tukang jagung bakar.”

Hyunjae melindungi badannya yang hampir kena geplak kipas sama Jacob sambil cengengesan.

“Temennya Hyunjae? Kok kayaknya gue belom pernah liat?”

“Mm.. Gue.. temennya Juyeon, sih.” Younghoon jawab ragu-ragu.

Jacob membulatkan mulut sambil manggut-manggut. “Korban SKSD-nya Hyunjae berarti.”

Giliran Hyunjae yang berpura-pura mau nabok Jacob. Dua cowok itu ketawa-tawa yang Younghoon nggak ngerti apa maksudnya.

“Hoon- Sori, siapa tadi?”

“Younghoon.”

“Younghoon. Mau pedes apa nggak?”

“Pedes dikit boleh.”

Sambil nunggu jagung bakarnya dibikin, Younghoon mainan hape biar nggak canggung. Dia buka aplikasi Instagram terus scroll berandanya. Waktu halamannya ke-refresh, yang muncul paling atas postingan akun Sangyeon. Younghoon langsung nahan napas. Itu postingan sehari yang lalu. Sangyeon bisa dibilang jarang update di Instagram, jadi ngeliat itu bikin Younghoon tiba-tiba merasa mulas.

Cuma ada dua slide foto. Yang pertama adalah foto yang memamerkan dua tangan dengan cincin di masing-masing jari manis. Dan yang kedua adalah foto sepasang mempelai yang lagi ciuman. Begitu melihat foto kedua, Younghoon nggak tau kenapa matanya tiba-tiba kerasa pedih. Dia ngusap matanya pake tangan.

“Geser sini, Hoon. Asepnya pedes kalo kena mata.”

Hyunjae narik lengan Younghoon buat menjauhi asap bakaran jagung. Cowok itu berdiri di sisinya masih sambil ngucek matanya.

“Pedes, ya? Coba liat.” Hyunjae nyingkirin tangan Younghoon dari wajahnya. Mata cowok itu merah.

Entah karena foto yang barusan diliatnya atau Hyunjae yang keliatan khawatir sama matanya, air mata Younghoon merebak dan netes gitu aja. Cowok itu langsung berjongkok dan nyembunyiin muka di antara kakinya.

“Hoon?” Hyunjae ikutan jongkok di hadapannya. “Kenapa? Lo sakit?”

Younghoon nggak jawab. Dia sibuk nyembunyiin air matanya yang ngalir nggak berhenti. Tapi akhirnya Younghoon nyerah waktu Hyunjae ngelingkarin kedua lengan buat meluk dia. Younghoon nangis sejadi-jadinya.


Juyeon nggak akan lupa sama malam itu. Nggak sering ulang tahunnya dirayain dan dapet semua perlakuan ini bikin Juyeon merasa beruntung. Tapi yang paling penting dari itu semua, Changmin ada di sana. Dari Juyeon jemput Changmin di kosnya, cowok itu sudah bikin senang cuma dari ucapan selamatnya. Belum lagi Changmin yang bawain kue ulang tahun dan ngasih hadiah buat cowok itu.

“Senyum-senyum mulu, sih, Kak. Seneng, ya?” tanya Changmin saat akhirnya mereka duduk buat makan.

“Seneng, lah. Seneng banget.” Juyeon nyingkirin butir nasi yang nempel di sudut bibir Changmin. “Ulang tahun gue yang paling heboh. Ide Hyunjae pasti?”

“Iya, Kak Hyunjae yang ngide pertama. Terus gue ikutan.”

“Emang dasar orang tajir melintir. Tapi bagus, deh, kita temenan sama dia. Duitnya cocok buat anak kos kayak kita.”

Changmin ketawa denger kelakar Juyeon. Cowok ini memang punya selera humor yang Changmin suka. Di tengah-tengah obrolan Changmin tiba-tiba dapat segelas jus alpukat dari cowok yang nggak Juyeon kenal. Mungkin temannya.

Mata Changmin melebar entah karena kaget atau senang. “Eh, makasihh!”

Cowok itu langsung melipir pergi sebelum Juyeon sempat mengajak buat bergabung.

“Kak, mau minum apa? Gue ambilin,” tawar Changmin.

“Ah, gampang. Ntar aja gue ambil sendiri.”

Selesai makan Juyeon tiba-tiba ingat sesuatu. Dia celingukan ke sekeliling. Changmin jadi penasaran.

“Nyariin apa, Kak?”

“Younghoon,” jawab Juyeon singkat. Matanya masih memindai keramaian di sekitarnya. “Ilang ke mana tuh bocah?”

Juyeon mulai bangkit berdiri disergap khawatir. Dia lupa total sama sahabatnya itu gara-gara kelewat senang sama acara ulang tahunnya.

“Kak Juyeon, mau ke mana?”

“Tunggu sini dulu, ya. Gue cari Younghoon dulu.”

“Kak-“

Panggilan Changmin nggak digubris karena Juyeon sudah telanjur pergi buru-buru nyari Younghoon yang dari tadi memang nggak keliatan. Changmin menggigiti bibirnya sambil ngeliat punggung Juyeon yang makin hilang ditelan kerumunan orang. Sorot matanya mendingin seperti jus alpukat yang tergenggam erat di tangan.