purplish

commissioned by anonymouspairing : bbangmilword count : 2124 wordstags : angry sex, angsty sex, nipple play, unprotected sex, consensual sex, creampie, angst with happy ending.


Ruangan itu hening. Hanya terisi deru napas seseorang yang baru saja menjatuhkan barang dari tangannya. Sebuah kardus berisi pakaian. Lelaki itu menatap lantai dengan kedua matanya yang nanar. Beberapa detik ia mencoba mengendalikan napasnya yang memburu sebelum menolehkan kepalanya pada seseorang yang tengah duduk di kursi, sama tegangnya.

“Aku paling nggak suka debat sama kamu, Hyunjae.”

Lelaki yang duduk di kursi itu menghembuskan tawa hambar, hampir tak percaya. Ia menggeleng pelan.

“Yang mulai siapa, sih? Kamu, loh, yang tiba-tiba ngebanting barang?”

“Tiba-tiba? Emangnya kamu nggak ngerasa kalo omongan kamu, tuh, nggak ngenakin?”

“Nggak ngenakin gimana, Younghoon? Aku cuma-”

Younghoon menendang pelan kardus di dekat kakinya itu. “Kamu nyuruh aku ambil semua barang-barangku di sini. Kesannya kamu pengen hapus semua jejak aku dari tempat kamu.”

Sekarang Hyunjae benar-benar tertawa. Ia melayangkan tangannya di udara. “Kamu yang bilang pengen ambil barang ke sini?”

“Barang yang aku butuh,” tegas Younghoon. “Bukan semuanya.”

“Apa bedanya, Hoon? Kita udah selesai,” ucap Hyunjae pelan. Ada letih dalam suaranya, seakan ia enggan mengucapkan kalimat itu.

Younghoon menangkap lengan Hyunjae yang beranjak dari kursinya, menahannya untuk tidak pergi.

“Walaupun kita selesai tapi aku mau hubungan kita tetep baik, Je. Jangan tiba-tiba berlagak jadi orang asing dan nyuruh aku kemasin semua barang sampe nggak ada lagi bagian dari aku yang kesisa. Kamu pengen lupa sama aku?”

Hyunjae mendecakkan lidahnya kesal. Kesal karena ia tak tahu bagaimana menjelaskan rumit perasaannya. Jadi yang keluar dari mulutnya hanyalah rentetan kalimat tanpa makna.

“Ngerti arti putus nggak, sih? Selesai. Nggak ada lagi hubungan yang harus di—!!”

Kalimat Hyunjae diputus oleh Younghoon yang membungkam mulutnya tiba-tiba dengan ciuman. Begitu tak terduga hingga punggungnya menabrak meja. Ciuman Younghoon penuh dengan amarah yang bercampur dengan putus asa. Lalu lelaki itu berhenti untuk menempelkan dahinya pada Hyunjae.

“Kamu suka banget bikin aku sakit,” bisiknya. “Kenapa?”

Pertanyaan Younghoon tak dapat Hyunjae jawab. Ia hanya menggigit bibirnya sementara Younghoon menarik napas dengan berat lalu kembali mencumbui wajah Hyunjae, lehernya, bahunya, dan kembali ke bibirnya.

Bohong kalau Hyunjae tak rindu sentuhan Younghoon. Lelaki itu selalu memiliki cara untuk menyentuhnya dengan penuh kelembutan, kehangatan, dan mendamba. Pada akhirnya ia hanya membiarkan pakaiannya luruh satu persatu ke lantai bersama dengan milik Younghoon. Jemari Younghoon jatuh ke permukaan kulitnya dan mengirim gelenyar yang memabukkan ke sekujur tubuh.

“Aku kangen banget sama kamu, Je…”

Entah itu ditujukan padanya atau raganya, Hyunjae tak tahu. Untuk kali ini ia tak mau tahu. Akan diambilnya kesempatan yang mungkin adalah terakhir kali.

Hyunjae melemparkan kepalanya ke belakang kala Younghoon menjatuhkan kecup demi kecup pada permukaan dadanya, menyusuri tiap jengkalnya dengan penuh perhitungan. Sementara tangannya berkelana ke bagian bawah tubuh Hyunjae, menangkup apa yang ada di antara pahanya.

Hyunjae kesulitan untuk meredam apapun yang muncul dari balik tenggorokan. Badannya pun mulai merespon dengan sukarela atas sentuhan-sentuhan Younghoon. Lelaki itu menekan tubuhnya hingga benar-benar terpaku pada meja dan tak mampu ke mana-mana. Kemudian ia mulai bergerak.

Napas yang dihembus Hyunjae melalui bibirnya yang terbuka kecil menyertai penyerahan dirinya. Ia pasrah dan berserah. Menaruh nasibnya di tangan Younghoon untuk mengendalikannya.

Younghoon menggesekkan milik keduanya dengan gerakan yang begitu lambat. Mengingatkan Hyunjae pada dirinya, pada miliknya.

“Sini. Pegang.” Younghoon meminta Hyunjae untuk mengulurkan tangan, menyentuh miliknya. Yang dengan patuh Hyunjae penuhi. Ia membiarkan Younghoon menuntun tangannya untuk meremas penisnya dan mendengar erangan lelaki itu.

Menyadari bahwa Younghoon cukup basah, tubuh Hyunjae seketika dibalikkan hingga kini ia menghadap ke arah meja. Kedua lengan Younghoon mendekap tubuhnya dari belakang dan lelaki itu menciumi leher serta tengkuknya. Hyunjae menggigil.

Younghoon tahu langit di luar mulai gelap sebab cahaya di kamar Hyunjae juga semakin remang. Tangannya meraba-raba lampu duduk di meja lalu mencari tombolnya. Seketika ruangan itu dihiasi bias warna kuning yang lembut. Tubuh Hyunjae terlihat jelas di depan mata Younghoon.

“Hoon, we don’t have to do this…

“Kenapa? You don’t want it?” Bibir Younghoon masih sibuk menciumi leher Hyunjae. “Atau udah ada orang lain?”

Hyunjae menggeleng pelan. “Nggak…”

So?” Younghoon menggesekkan penisnya di belahan pantat Hyunjae, seakan menunggu kepastian sebelum melanjutkan aksinya.

“Kita udah putus, Younghoon.” Lagi-lagi Hyunjae mengucapkan kata yang Younghoon benci.

Shut up. Just- shut up.” Kalimat yang muncul dari bibir Younghoon sarat dengan luka, namun entah Hyunjae menyadari atau tidak. “Do you want it or not?”

Pada akhirnya Hyunjae tak mampu menjawab. Dan Younghoon menganggapnya sebagai persetujuan untuk meneruskan apa yang tertunda. Hyunjae terkesiap begitu milik Younghoon memasuki dirinya. Napasnya tertahan hingga lelaki itu terbenam sempurna.

“Udah lama aku nggak masukkin kamu. I miss this so much.”

Younghoon mulai bergerak dengan perlahan. Memaju-mundurkan pinggulnya hingga lubang Hyunjae kosong dan terisi, menggesek dindingnya berulang kali.

Hyunjae tak sepenuhnya memahami kalimat Younghoon. Ia tahu mantan pacarnya itu banyak temannya, banyak kenalannya. Di mana-mana. Yang dekat dan akrab. Mungkin satu-dua pernah tidur bersama. Mungkin. Lebih mudah menerima asumsi itu daripada memercayai bahwa Younghoon hanya hadir untuknya saja. Jadi maksud kalimatnya bisa jadi karena Younghoon lama tak menikmati tubuh ini. Tubuh Hyunjae, bukan Hyunjae.

Kedua tangan Hyunjae bertumpu pada permukaan meja selagi Younghoon memasukinya. Napasnya mulai berantakan dan tak pelak desahnya juga terbit ke permukaan.

“Hhh… Young-hoon…”

“Hm? Kamu kangen juga, kan?” Younghoon berbisik di telinganya. “Enak, Sayang?”

Kepala Hyunjae terasa pening. Ia pejamkan matanya kuat-kuat. Jangan panggilan itu lagi…

Tangan Younghoon hinggap di puncak dadanya dan memainkan putingnya hingga Hyunjae memekik tertahan. Lututnya gemetar menahan tubuhnya yang semakin sulit ditopang oleh kedua kakinya sendiri. Ia bisa ambruk kapan saja.

“Hoon, aku- nggak kuat-” rengek Hyunjae meminta Younghoon untuk berhenti. Namun Younghoon membungkam mulutnya dengan ciuman sembari memeluk tubuhnya erat, meredakan kegelisahannya. Tubuhnya masih bergerak menghentak keseluruhan tubuh Hyunjae.

Posisi Hyunjae yang terhimpit meja dan Younghoon tak ayal membuatnya tak berkutik. Apalagi ketika penisnya bergesekan dengan sisi meja hingga cairan bening mulai menetes ke permukaan mejanya.

Entah karena Younghoon yang terus bergerak di belakangnya atau karena Hyunjae memang merindukan semua ini, ia akhirnya keluar. Bercak-bercak putih pekat itu terciprat ke atas meja.

Younghoon merasakan tubuh Hyunjae melemas dalam dekapan lengannya. Ia menyadari lelaki itu telah memuntahkan spermanya. Diciumnya lembut sisi wajah Hyunjae sebelum digendongnya menuju ranjang.

Merebahkan tubuhnya ke ranjang, Hyunjae mengira Younghoon sudah selesai dengan dirinya. Ia telah mempersiapkan diri apabila lelaki itu kemudian memakai pakaiannya dan pulang. Meninggalkan Hyunjae dalam kesendirian di kamarnya lagi sama seperti sebelum kedatangannya.

Tetapi dugaan Hyunjae salah besar. Younghoon justru tetap melekat padanya. Melumat bibirnya dan menautkan lidahnya, berusaha untuk mengosongkan oksigen di dalam paru-parunya.

Pendingin ruangan di kamar Hyunjae mati. Tapi sedari tadi ia malah menggigil akibat perlakuan Younghoon. Mantan pacarnya itu selalu bisa membuatnya merasakan sensasi yang tak mampu dinalar otaknya. Sama seperti yang tengah dilakukannya sekarang.

Puas menikmati bibir Hyunjae, kini Younghoon menyusuri kulit tubuhnya. Dengan bibirnya ia ciumi tiap lekuk tubuh Hyunjae. Mulai dari tangannya, lalu dadanya hingga turun ke perutnya. Younghoon menghabiskan waktu lebih lama di sana. Hyunjae sama sekali tak dapat berkutik.

Pendaratan terakhirnya adalah paha Hyunjae. Younghoon mengangkat kedua kaki Hyunjae dengan tangannya lalu menciumi bagian dalam pahanya. Titik sensitif lelaki itu.

“Mmh…” Hyunjae hanya mampu melenguh pelan sementara Younghoon menggesekkan bibirnya di sana. Ia berusaha keras tak menarik rapat pahanya.

Lalu wajah Younghoon terangkat, pandangannya tertuju tepat pada Hyunjae. Ia tersenyum manis.

“Kamu cantik, Hyunjae.”

Seketika Hyunjae merasa kepalanya kosong dan ia jauh lebih tak berdaya dari sebelumnya. Apakah itu pujian? Apa maksud ucapannya? Raga dan jiwanya sama-sama membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Sepertinya Younghoon juga tak mengharapkan apapun dari Hyunjae sebab lelaki itu tak lama kemudian kembali memuja tubuhnya dengan penuh kelembutan. Hyunjae hanya mampu menatap ke langit-langit kamarnya selagi Younghoon melanjutkan kegiatannya. Bertanya-tanya apa yang akan terjadi saat semua ini berakhir. Mungkin Younghoon akhirnya akan tersadar bahwa ia tak menginginkan ini, ia tak menginginkan Hyunjae. Lalu pergi tanpa pernah kembali lagi.

“Mikirin apa?”

Suara Younghoon tiba-tiba sudah dekat dengan telinganya. Rupanya lelaki itu telah beranjak dari menciumi paha Hyunjae menuju ke lehernya lagi. Ia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Hyunjae sedari tadi namun tak diungkapkan.

“Nggak, cuma…” Hyunjae menjeda kalimatnya sejenak. “Kamu bakal nyesel nggak, habis ini?”

“Nggak.” Jawaban Younghoon datang lebih cepat dari yang Hyunjae kira. Bahkan lelaki itu tampak yakin. “Kamu nyesel ngelakuin ini?”

Tak menyangka atas pertanyaan balik itu, Hyunjae menjauhkan wajahnya dari bibir Younghoon yang mulai menyusuri sisinya. Ia menelan ludah yang terasa pahit di mulutnya.

“Kenapa sih, Je?” Hela napas dihembus dari bibir Younghoon. “Kenapa susah banget kamu nerima rasa sayang aku?”

Pertanyaan itu bagai belati yang menghunjam tepat di ulu hati Hyunjae. Ngilu. Sakit. Padahal seharusnya mudah untuk menerima seluruh perasaan Younghoon. Namun bagi Hyunjae, sekuat apapun ia berusaha tetap saja rasanya sulit.

“Kamu nggak kayak aku, Hoon. Kamu punya dunia kamu sendiri. Dunia yang isinya kamu sama orang-orang yang emang pantes ada di sekitar kamu.”

Younghoon mendecakkan lidahnya kesal. “Hyunjae, aku beneran capek dengerin alasan kamu yang itu. Dunia apa yang kamu maksud? Dunia aku ya kamu, Je.”

“Nggak. Aku bukan dunia kamu. Tapi kamu paksa aku masuk. Aku yakin hidup kamu bakal baik-baik aja walaupun nggak pernah ketemu aku.”

Kalimat Hyunjae memantik gemuruh dalam diri Younghoon. Dalam sekejap bibir Hyunjae dilumat habis dan Younghoon kembali memasukinya. Kali ini ada luapan perasaan yang ingin Younghoon bagikan pada Hyunjae. Berharap ia akan mengerti.

“Ah- Hoon- Aah!” Hyunjae meremas kuat sprei di ranjangnya seiring Younghoon melesakkan miliknya berulang kali. Satu dorongan tajam ke ke dorongan tajam yang lain terus bersahutan tanpa henti.

“Sebut namaku.” Younghoon terengah. “Sebut namaku, Hyunjae.”

Stimulasi yang didapat Hyunjae terlampau kuat hingga ia tak mampu berpikir jernih. Penis Younghoon terus menggesek dindingnya dan membuatnya penuh.

“Younghoon- Ngh- Hoon… Di situ-”

Younghoon menemukan titik kenikmatan Hyunjae. Difokuskannya untuk menghunjam satu titik itu hingga Hyunjae lupa diri.

“Di sini? Enak di sini?” tanya Younghoon. Suaranya berat dan dalam. Hyunjae menjawab dengan anggukan. Matanya terpejam kuat. “Aku bakal bikin kamu enak, Je. Aku selalu bikin kamu enak.”

Ranjang Hyunjae berderit akibat kencangnya hentakan yang dihasilkan keduanya. Bibir Hyunjae juga tak henti mengeluarkan lenguhan keras yang tak mampu ia tahan. Apa yang dikatakannya beberapa saat lalu berbanding terbalik dengan bagaimana tubuhnya merespon tiap gerakan dan sentuhan Younghoon.

“Hyunjae… Hyunjae…” Younghoon memanggil dengan suaranya yang hampir pecah. “Aku sayang kamu, Je… Hh- Aku masih sayang…”

Hyunjae tak ingin berasumsi apapun ketika ia merasakan sesuatu yang hangat di ceruk lehernya, tempat Younghoon membenamkan wajah. Ia ingin menjemput nikmatnya untuk kedua kali. Dipeluknya tubuh Younghoon dengan kedua kaki dan tangannya lalu pinggulnya ikut serta terangkat bertemu dengan tiap hentakan Younghoon.

“Sayang, enak banget, Sayang…” Suara Younghoon terdengar serak di telinga Hyunjae. Ia tetap memanggil Hyunjae dengan sebutan yang sudah lama Hyunjae larang. Hingga panggilan itu pada akhirnya membuat Hyunjae memuncratkan putihnya ke mana-mana. Lalu ia sibuk mengatur napasnya yang berantakan sembari mendengar desahan Younghoon yang masih bergerak di dalamnya. Dengan ragu ia menaruh satu tangannya pada kepala lelaki itu, mengusapnya pelan.

Tak lama Hyunjae merasakan hangat di dalam lubangnya, diiringi dengan erangan panjang Younghoon. Ia membiarkan lelaki itu berdiam menindih tubuhnya untuk sementara waktu. Terlalu takut untuk menghadapi apa yang akan terjadi setelah ini.

Namun ketakutan Hyunjae berubah menjadi kebingungan tatkala Younghoon mengangkat wajahnya. Sepasang mata lelaki itu merah dan wajahnya basah. Ternyata benar dugaan Hyunjae sebelumnya, Younghoon menangis. Tapi untuk alasan apa?

“Kamu…” Hyunjae meraih sisi wajah Younghoon dengan tangannya, mengusap pipinya dengan ibu jari. “Kenapa nangis?”

Younghoon memegang tangan Hyunjae yang menyentuh wajahnya. Untuk sepersekian detik ia hanya ingin merasakan belaian lelaki itu. Cairan bening kembali merebak di pelupuk matanya.

“Aku bener-bener nggak bisa kehilangan kamu, Je,” lirih Younghoon. “Aku sayang kamu. Sayang banget. Gimana caranya biar kamu percaya?”

Kalau Hyunjae boleh jujur, melihat Younghoon menangis di depannya adalah suatu pemandangan yang tak pernah ia duga. Selama mereka berpacaran jarang sekali Younghoon meneteskan air mata untuk alasan apapun. Hampir tidak pernah. Namun melihat lelaki itu menunjukkan rapuhnya di depan kedua matanya seperti ini membuat batin Hyunjae tergores pilu.

“Jangan nangis…” Hyunjae menghapus jejak tangis di sudut mata Younghoon. “Aku nggak suka lihat kamu nangis.”

Kemudian direngkuhnya keseluruhan raga Younghoon. Didekap erat dengan lengan dan perasaannya. Dikecupnya wajah lelaki itu kemudian berbisik pelan.

“Aku juga sayang kamu, Younghoon. Selamanya aku sayang. Mungkin rasa sayangku ini lebih dari kamu, makanya aku selalu takut. Aku pikir dengan jauh dari kamu bakal bikin aku terbiasa kalo sewaktu-waktu kamu pergi.”

Younghoon menggelengkan kepalanya dalam pelukan Hyunjae. “Mana mungkin aku pergi, Hyunjae? Tiap ada apa-apa aku selalu dateng ke kamu.”

Hyunjae merasa seperti orang bodoh. Ia terlalu sibuk dengan kekhawatirannya sendiri hingga tanpa sadar telah menyakiti orang yang selalu disayangnya. Seberapa jauh ia menyakiti Younghoon demi berlindung di balik tamengnya sendiri?

“Maafin aku,” bisik Hyunjae. “Aku nggak akan pergi ke mana-mana.”

Mungkin hanya itu yang dibutuhkan Younghoon. Mendengar langsung dari bibir Hyunjae bahwa ia akan tetap tinggal. Tidak perlu ada yang pergi. Tidak perlu saling menjauh dan menyakiti.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan terakhir, malam itu Younghoon akhirnya dapat tertidur pulas tanpa mimpi buruk. Ia tertidur di pelukan Hyunjae tanpa takut lelaki itu tak ada di sisinya begitu matanya terbuka.

Younghoon merasa seperti baru keluar dari cangkang. Ketemu wajah-wajah asing, menghirup udara yang anehnya nggak kayak biasanya, bikin lebih lega. Selama ini Younghoon nggak punya usaha lebih buat bergaul apalagi nambah temen. Kenalannya bisa dihitung jari. Yang deket cuma satu, Juyeon. Younghoon selalu merasa kegiatan berteman itu ngabisin tenaga. Tapi entah kali ini rasanya beda. Dia masih nggak berniat buat kenalan atau nyari temen, tapi dia nggak keberatan ada di tengah keramaian itu.

Mungkin Younghoon kelewat capek buat nangisin Sangyeon tiap malem. Mungkin Younghoon merasa, ternyata fokus sama satu orang juga bisa nyakitin. Habis Sangyeon, terus apa? Younghoon nggak pernah mikir sampe situ. Younghoon bahkan nggak pernah kepikiran bakal pisah sama Sangyeon. Semua tenaganya habis cuma buat Sangyeon.

Mungkin itu semua yang bikin malem ini jadi terasa seperti angin segar. Kayak Younghoon bisa napas lagi buat pertama kalinya. Ngeliat ulang tahun Juyeon dirayain sama banyak orang. Younghoon terlalu sibuk sama rasa sedihnya sendiri sampai nggak sempat mikirin kalau Juyeon juga butuh merasa spesial di hari spesialnya.

Younghoon nggak sadar waktu bibirnya melengkungkan senyum ngeliat Juyeon yang malu-malu disodorin kue ulang tahun sama Changmin. Itu kue yang dibelinya sama Hyunjae tadi.

“Woi, jangan sampe numplek kuenya! Mahal, tuh!”

Komentar Hyunjae mengundang tawa orang-orang dan sebelum Younghoon sadar cowok itu sudah duduk bersila di sebelahnya. Younghoon tiba-tiba jadi canggung. Momen beli kue ulang tahun dan hadiah buat Juyeon yang dilakuin bareng Hyunjae tadi bikin Younghoon tahu lebih banyak soal kepribadian Hyunjae. Yang dibilang Juyeon memang nggak salah; Hyunjae orang baik. Dan bukan buat pencitraan, Younghoon bisa liat itu.

Juyeon langsung tenggelam dikerubuti banyak orang habis tiup lilin dan potong kue. Sebagian ribut minta bagian kue ulang tahun Juyeon, sebagian lagi milih buat mengisi perut yang memang sengaja dikosongin demi makan-makan malem itu. Younghoon nggak yakin harus ngapain karena dia nggak kenal siapapun selain Juyeon. Dan Hyunjae.

“Makan, yuk!” Hyunjae nepuk pundak Younghoon terus bangkit buat ngantre ambil makan. Mau nggak mau Younghoon ngekor di belakangnya biar nggak keliatan kayak anak ilang.

Acara kumpul-kumpul itu ngambil tempat di sebelah warung penyetan yang jadi favorit mahasiswa. Ada pelataran luas di mana mereka tinggal menggelar tikar terus menikmati makanan yang sudah disiapkan dalam jumlah besar. Younghoon ngambil sepotong ayam dan dua buah gorengan buat teman makan nasinya.

“Ambil yang banyak,” celetuk Hyunjae. Berbagai macam lauk sudah menggunung di atas nasinya.

“Kayak gini siapa yang bayar? Patungan?” tanya Younghoon penasaran setelah mereka akhirnya duduk buat makan.

Hyunjae nelen makanannya sebelum jawab singkat. “Gue.”

Tatapan Younghoon bikin Hyunjae ketawa tanpa berniat buat ngasih tau cowok itu apakah dia bohong atau nggak. Tapi Younghoon nggak terlalu ambil pusing. Sepanjang makan ada beberapa orang yang nyamperin Hyunjae entah buat sekedar nyapa atau ngobrol. Younghoon paham orang ini memang banyak temennya.

Tapi seseru apapun malam itu, Younghoon tetap nggak bisa keluar lama-lama. Energinya sudah hampir habis dan dia bisa ngedrop kapan saja. Masalah baru pun muncul. Gimana caranya dia pulang kalau tadi dia berangkat dijemput mobil sama Hyunjae? Nggak mungkin dia nyuruh cowok itu buat nganterin pulang, apalagi acaranya belum selesai.

“Hoon, tadi anak-anak pada bakar jagung. Cobain, yuk.”

“Hah?”

Hyunjae narik tangan Younghoon sebelum dia bisa nolak. Cowok itu ngajak Younghoon ke pojok yang banyak asap hasil bakaran arang. Bau jagung bakar mulai kecium.

“Cob, mau dong. Dua, yah.” Hyunjae meminta pada cowok yang sibuk mengipas di depan bakaran jagung itu.

“Antre. Banyak yang mau soalnya.”

“Iyaa. Eh, Hoon, kenalin ini Jacob. Tukang jagung bakar.”

Hyunjae melindungi badannya yang hampir kena geplak kipas sama Jacob sambil cengengesan.

“Temennya Hyunjae? Kok kayaknya gue belom pernah liat?”

“Mm.. Gue.. temennya Juyeon, sih.” Younghoon jawab ragu-ragu.

Jacob membulatkan mulut sambil manggut-manggut. “Korban SKSD-nya Hyunjae berarti.”

Giliran Hyunjae yang berpura-pura mau nabok Jacob. Dua cowok itu ketawa-tawa yang Younghoon nggak ngerti apa maksudnya.

“Hoon- Sori, siapa tadi?”

“Younghoon.”

“Younghoon. Mau pedes apa nggak?”

“Pedes dikit boleh.”

Sambil nunggu jagung bakarnya dibikin, Younghoon mainan hape biar nggak canggung. Dia buka aplikasi Instagram terus scroll berandanya. Waktu halamannya ke-refresh, yang muncul paling atas postingan akun Sangyeon. Younghoon langsung nahan napas. Itu postingan sehari yang lalu. Sangyeon bisa dibilang jarang update di Instagram, jadi ngeliat itu bikin Younghoon tiba-tiba merasa mulas.

Cuma ada dua slide foto. Yang pertama adalah foto yang memamerkan dua tangan dengan cincin di masing-masing jari manis. Dan yang kedua adalah foto sepasang mempelai yang lagi ciuman. Begitu melihat foto kedua, Younghoon nggak tau kenapa matanya tiba-tiba kerasa pedih. Dia ngusap matanya pake tangan.

“Geser sini, Hoon. Asepnya pedes kalo kena mata.”

Hyunjae narik lengan Younghoon buat menjauhi asap bakaran jagung. Cowok itu berdiri di sisinya masih sambil ngucek matanya.

“Pedes, ya? Coba liat.” Hyunjae nyingkirin tangan Younghoon dari wajahnya. Mata cowok itu merah.

Entah karena foto yang barusan diliatnya atau Hyunjae yang keliatan khawatir sama matanya, air mata Younghoon merebak dan netes gitu aja. Cowok itu langsung berjongkok dan nyembunyiin muka di antara kakinya.

“Hoon?” Hyunjae ikutan jongkok di hadapannya. “Kenapa? Lo sakit?”

Younghoon nggak jawab. Dia sibuk nyembunyiin air matanya yang ngalir nggak berhenti. Tapi akhirnya Younghoon nyerah waktu Hyunjae ngelingkarin kedua lengan buat meluk dia. Younghoon nangis sejadi-jadinya.


Juyeon nggak akan lupa sama malam itu. Nggak sering ulang tahunnya dirayain dan dapet semua perlakuan ini bikin Juyeon merasa beruntung. Tapi yang paling penting dari itu semua, Changmin ada di sana. Dari Juyeon jemput Changmin di kosnya, cowok itu sudah bikin senang cuma dari ucapan selamatnya. Belum lagi Changmin yang bawain kue ulang tahun dan ngasih hadiah buat cowok itu.

“Senyum-senyum mulu, sih, Kak. Seneng, ya?” tanya Changmin saat akhirnya mereka duduk buat makan.

“Seneng, lah. Seneng banget.” Juyeon nyingkirin butir nasi yang nempel di sudut bibir Changmin. “Ulang tahun gue yang paling heboh. Ide Hyunjae pasti?”

“Iya, Kak Hyunjae yang ngide pertama. Terus gue ikutan.”

“Emang dasar orang tajir melintir. Tapi bagus, deh, kita temenan sama dia. Duitnya cocok buat anak kos kayak kita.”

Changmin ketawa denger kelakar Juyeon. Cowok ini memang punya selera humor yang Changmin suka. Di tengah-tengah obrolan Changmin tiba-tiba dapat segelas jus alpukat dari cowok yang nggak Juyeon kenal. Mungkin temannya.

Mata Changmin melebar entah karena kaget atau senang. “Eh, makasihh!”

Cowok itu langsung melipir pergi sebelum Juyeon sempat mengajak buat bergabung.

“Kak, mau minum apa? Gue ambilin,” tawar Changmin.

“Ah, gampang. Ntar aja gue ambil sendiri.”

Selesai makan Juyeon tiba-tiba ingat sesuatu. Dia celingukan ke sekeliling. Changmin jadi penasaran.

“Nyariin apa, Kak?”

“Younghoon,” jawab Juyeon singkat. Matanya masih memindai keramaian di sekitarnya. “Ilang ke mana tuh bocah?”

Juyeon mulai bangkit berdiri disergap khawatir. Dia lupa total sama sahabatnya itu gara-gara kelewat senang sama acara ulang tahunnya.

“Kak Juyeon, mau ke mana?”

“Tunggu sini dulu, ya. Gue cari Younghoon dulu.”

“Kak-“

Panggilan Changmin nggak digubris karena Juyeon sudah telanjur pergi buru-buru nyari Younghoon yang dari tadi memang nggak keliatan. Changmin menggigiti bibirnya sambil ngeliat punggung Juyeon yang makin hilang ditelan kerumunan orang. Sorot matanya mendingin seperti jus alpukat yang tergenggam erat di tangan.

Motor Hyunjae berhenti di depan tempat makan yang menu utamanya terpampang jelas di gerobak. BAKSO ISTIMEWA.

Banyak mahasiswa yang berjubel buat antre pesan makanan. Ini memang jam makan siang, jadi nggak heran kalau tempatnya rame. Hyunjae dapet tempat duduk yang deket kipas angin, lumayan buat ngusir hawa panas di siang yang terik banget plus rame pengunjung.

“Makasih, Bang.” Younghoon menggeser mangkuk bakso yang dateng lebih cepet dari dugaan walaupun tempatnya rame. Dua mangkuk ditaruh di depan Hyunjae. “Laper banget ya, lo?”

“Ini, sih, porsi biasa gue makan.” Hyunjae nyengir. “Kalo laper mungkin bisa nyampe enam mangkok.”

“Laper apa doyan, tuh?” cibir Younghoon.

Hyunjae terkekeh. Dia mulai menancapkan garpu di bakso isi telurnya dan membawanya ke mulut.

“Jadi, gimana? Mantan lo dateng ke orang tua lo apa gimana?”

Younghoon ngangkat alis mengiyakan omongan Hyunjae. Dadanya jadi sesak lagi gegara marah dan sedih.

“Itu yang bikin lo ke-trigger waktu itu? Pas malem ulang tahun Juyeon,” tambah Hyunjae.

“Oh, bukan. Itu- gue nggak sengaja liat postingan nikahannya dia. Konyol, sih.” Younghoon ketawa miris.

“Kenapa nggak lo block aja? Mute, deh.” Hyunjae mengamati ekspresi Younghoon. “Susah, ya?”

“Yah, gitu deh… Waktu itu aja gue malah dateng ke nikahannya, kan?”

“Lumayan gila, sih, menurut gue.”

“Emang. Makanya Juyeon ngomel-ngomel.” Younghoon masih inget gimana keselnya Juyeon waktu itu. Tapi temennya itu kasihan juga sama dia, jadinya habis marah-marah langsung ngajak jajan buat ngehibur. “Lo sanggup ya, nge-block mantan lo?”

Ditanya balik kayak gitu Hyunjae langsung kagok buat beberapa saat. Butuh sepersekian detik sebelum dia jawab, “Gue nggak block mantan gue, sih. Soalnya emang udah kelar aja urusannya. Gue ngerasa nggak ada manfaatnya juga buat block dia.”

“Pasti kalian putusnya bukan karena dia mau nikah, kan?”

“Enggak, sih.” Hyunjae menggeleng. “Makanya gue nggak bisa nyamain pengalaman gue sama case lo. Faktornya udah beda. Yang sama mungkin cuma satu.”

“Apa?”

“Sakitnya.”

Younghoon natap bongkahan bakso yang menari-nari di mangkuknya sambil manggut-manggut, lalu mendengus geli. “Bener. Gue nggak tau apa sakitnya bakalan bisa ilang atau seenggaknya berkurang. Nggak adil banget kalo cuma gue yang ngerasa kayak gini.”

“Kalo kata orang-orang, sih, sakitnya nggak akan bener-bener ilang. Cuma berubah bentuk seiring jalannya waktu. Atau lo yang jadi lebih pinter buat dealing sama rasa sakit lo itu,” ucap Hyunjae sebelum neguk es tehnya. Begitu gelasnya ditaruh, dia lanjut ngomong, “Lagian ya, Hoon. Mana ada yang bener-bener adil, sih, di dunia ini? Kalo dunia ini udah adil, ngapain gue kuliah hukum?”

Hyunjae lanjut makan lagi, ngabisin mangkuk keduanya. Selama itu juga Younghoon merenung, nggak sengaja merhatiin cowok di sebelahnya yang sibuk makan. Entah omongan Hyunjae, bakso yang rasanya sesuai sama judulnya yang istimewa itu, atau sepoi angin dari kipas yang nampar wajah Younghoon. Dadanya jadi kerasa jauh lebih ringan dan lapang. Sama kayak malem ulang tahun Juyeon itu, waktu Younghoon ngerasa semuanya bakal baik-baik aja. Satu hal yang sama dimiliki malem itu dan hari ini; ada Hyunjae di situ.

“Je, makasih ya.” Younghoon ngucap pelan, hampir nggak kedengeran telinga Hyunjae.

“Hm?”

“Yah, lo udah mau nampung uneg-uneg gue. Gue suka kasian sama Juyeon soalnya. Dia pasti udah capek banget dengerin curhatan gue. Tapi gue nggak tau mau cerita ke siapa lagi. Temen deket gue cuma dia. Orang yang bisa gue percaya.”

“Tenang. Cerita lo aman sama gue.” Hyunjae ngasih gestur mengunci mulut yang bikin Younghoon memecah tawa tulus buat pertama kalinya. Hyunjae sempet bengong sebentar sebelum nyeletuk.

“Hoon, lo kalo kayak gitu cakep, tau.”

Celetukan Hyunjae sukses bikin Younghoon kesedak kuah bakso. Hyunjae buru-buru ngedeketin gelas minuman Younghoon ke depannya.

“Eh, sori, sori! Gue nggak maksud aneh-aneh. Sumpah! Maksud gue- gue jarang liat lo senyum atau ketawa. Jadi pas lo gitu tadi keliatan bagus. Nah, itu maksud gue! Bagus!”

Younghoon neguk minumannya banyak-banyak sambil nepuk dadanya. Hidungnya juga kerasa panas gegara kuah baksonya hampir muncrat dari sana.

“Iya, udah- Uhuk! Gue ngerti-”

Hyunjae jadi ikut-ikutan nepuk punggung Younghoon dan berujung ketawa karena ngerasa situasinya kocak.

“Gue mau pesen satu lagi, deh, buat dibungkus. Enak baksonya. Kenapa gue belom pernah nyoba ke sini, ya?” cetus Younghoon habis batuknya reda.

“Gue juga baru sekali ini. Dikasih tau sama Changmin,” balas Hyunjae.

“Changmin?”

“Ho-oh.”

“Ngomongin Changmin, gue jadi keingetan Juyeon. Dia masih diambekin sama Changmin nggak, ya?”

Hyunjae menggembungkan sebelah pipi lalu angkat bahu. Yang penting dia udah nyumbang saran tadi. Nyogok pake seblak.


Saran Hyunjae ternyata berhasil bikin Juyeon disambut di kos Changmin. Sambil nenteng plastik berisi seblak yang sengaja dibelinya, Juyeon berjingkat masuk ke kamar Changmin yang pernah disambanginya sekali.

“Maaf, berantakan banget. Tadi gue lagi ngerjain laporan dadakan, semalem juga begadang nugas terus belom sempet beresin-” Changmin berusaha nyingkirin buku-bukunya dari atas ranjang. “Loh, Kak?” Changmin berhenti nyerocos begitu dia liat Juyeon duduk bersimpuh di lantai sambil senyum ke arahnya. Buru-buru dia narik kursi ke dekat Juyeon.

“Ini ada kursi. Kenapa duduk di bawah?”

Juyeon nggak jawab pertanyaan Changmin. Dia beralih duduk di kursi, masih sambil nyimpen senyumnya yang memang nggak bisa ditahan. Rasanya udah lama nggak denger Changmin ngoceh, padahal baru dua hari. Tapi dua hari itu terlalu lama buat Juyeon.

“Mau dibantuin, nggak?” tawar Juyeon akhirnya.

“Nggak usah,” tolak Changmin. Sedetik kemudian dia nyerah beres-beres kamarnya dan milih buat duduk di atas ranjangnya. Atau lebih tepatnya, dia nyerah buat ngehindar dari Juyeon.

Sadar bahwa Changmin akhirnya berhenti buat pura-pura sibuk, Juyeon menggeser kursinya deket ke Changmin sampai lutut mereka bersentuhan. Changmin mengerjapkan mata kaget waktu Juyeon narik tangannya buat digenggam.

“Changmin,” panggil Juyeon. Cowok itu mencondongkan badan ke arah Changmin, natap Changmin tepat di iris mata. “Gue minta maaf, ya?”

Changmin diam. Bukan karena dia nggak mau ngasih maaf, tapi dia bingung harus bilang apa. Changmin pengen Juyeon jelasin ke dia alasan permintaan maafnya.

“Kenapa minta maaf?”

“Karena gue salah? Karena gue udah bikin lo sedih?”

“Tapi, Kak. Gimana kalo ternyata gue yang terlalu banyak minta dari lo? Gue bukan-”

“Ini.” Juyeon membungkam Changmin dengan satu pelukan. “Yang ini cuma buat lo. Nggak buat Younghoon, nggak buat siapapun. Karena yang gue rasain ini cuma berlaku di lo, Changmin. Lo percaya sama gue, kan?”

Changmin masih nyoba buat mencerna pelukan Juyeon yang tiba-tiba itu. Meski rasanya asing, bukan sesuatu yang sering Changmin dapet, tapi pelukan Juyeon adalah salah satu dari sedikit hal yang terasa hangat di hidup Changmin. Dia nggak mau kehilangan itu.

“Kak Juyeon,” bisik Changmin di dalam rengkuh lengan Juyeon. “Jangan dilepasin gue-nya, ya? Gue mungkin bakal pegangan kenceng. Kenceng banget. Tapi tolong jangan pernah dilepas.”

“Nggak. Nggak akan.” Juyeon menggelengkan kepala.

“Janji?”

“Janji.”

Begitu peluknya lepas, ada sesuatu yang bikin Juyeon hampir oleng dari kursi. Dan dari situ Juyeon sadar bahwa Changmin memang bukan semata-mata sekedar. Sekedar naksir, sekedar suka, sekedar jatuh cinta. Tapi total, maksimal, pol-polan. Juyeon suka Changmin banget. Banget.

Tangan Juyeon hinggap di pipi kirinya yang baru saja dijadikan bibir Changmin buat mendarat. Hangat. Sementara tangan kanannya megangin kursi erat-erat karena hampir jatuh. Terus otak Juyeon kebakaran karena konslet. Mulutnya jadi gagu karena nggak tau harus ngomong apa, ngerespon kayak apa.

“Seblaknya keburu dingin. Gue makan ya, Kak?”

Sayangnya Changmin punya kendali yang lebih baik dibanding Juyeon. Jadi walaupun mukanya merah dan jantungnya bergemuruh kayak gempa di dalam dadanya, cowok itu masih keliatan kalem dari luar. Sedang Juyeon berubah jadi raga yang kayak habis dicabut nyawanya, ngeliatin Changmin yang lagi sibuk ngebuka bungkus seblak. Lalu mengumpat.

Seblak sialan.

Suara derit pintu membuat Arka terlonjak dan seketika membalikkan badan. Yang ditemui adalah wajah Hanan yang menyembul dari balik pintu kamarnya, lengkap dengan cengiran tanpa dosanya.

“Astaga. Kaget, tau!” protes Arka.

Hanan melangkah masuk ke kamar Arka sambil menutup pintu di belakangnya.

“Kamu lama banget, sih.” Hanan memprotes balik pacarnya yang masih berkutat mencari jaket di lemarinya.

“Ya, tunggu aja di kursi depan. Ngapain ikutan naik?” Wajah Arka berubah cerah begitu ia menemukan benda yang dicarinya. “Ketemu!”

“Khawatir kamu kenapa-napa. Kalo kamu tiba-tiba pingsan terus aku nggak tau, gimana?” kilah Hanan sembari memeluk Arka dari belakang dan membenamkan wajah di ceruk lehernya.

Arka menutup lemari pakaiannya sambil memutar bola mata. Pacarnya mulai lagi. Namun saking seringnya hal itu terjadi, Arka sudah tak ambil pusing lagi untuk meladeni tingkah aneh pacarnya. Ia mengabaikan ocehan Hanan dan menyeret kakinya menuju pintu.

Tapi Hanan memang manusia paling menyebalkan sedunia. Ia sengaja tak melepas pelukannya hingga menghambat langkah Arka.

“Hanan berattt. Lepas dulu, ah.”

“Nggak mau. Nanti Arka kabur.”

“Kabur apa sih- Jadi pergi, nggak!?”

Omelan Arka tidak mempan karena Hanan malah menggiring cowok itu hingga keduanya jatuh ke atas ranjang milik Arka.

“Aduh! Hanannn!”

Yang jadi sumber kekesalan hanya cekikikan. Lengannya mengunci tubuh Arka hingga cowok itu tak dapat bergerak. Otomatis Arka juga tak bisa berontak kala Hanan menciumi leher dan tengkuknya, menggesekkan ujung hidungnya di sana sambil menghirup aroma tubuh pacarnya.

“Suka banget sama baunya pacarku,” gumam Hanan, masih mengendus tengkuk Arka yang membuat cowok itu merasa geli.

“Aku lagi nggak pake parfum. Ngeledek, ya?” tuduh Arka.

“Kok ngeledek? Nggak. Emang enak bau kamu.”

“Aneh. Kamu tuh aneh banget, tau nggak?”

“Iya. Udah denger jutaan kali.”

Hanan tidak peduli. Mau pacarnya menyebutnya aneh atau apapun, Hanan memang suka semua-muanya tentang Arka. Dari yang paling masuk akal sampai hal-hal remeh sekalipun.

“Hanan, ini kita jadi pergi apa nggak?” cetus Arka karena Hanan tak menunjukkan tanda-tanda ingin melepasnya.

Hanan membalas dengan gumaman. “Bentar, ya. Bentarrr aja. Aku pengen peluk kamu.”

Rengkuhan Hanan seketika mengerat ketika Arka mencoba untuk membebaskan diri. Memang sial bagi Arka yang tenaganya tak sebanding dengan Hanan walaupun dia memperbanyak diri jadi sepuluh orang sekalipun.

“Hayo, jangan coba-coba kabur,” ancam Hanan.

“Iya, enggakk. Aku nggak bisa napas, nih.”

Satu hal yang selalu Arka rasakan, detak jantung Hanan yang berirama cepat mengetuk melalui punggungnya. Hanan selalu seperti itu saat memeluknya. Dan Arka menyukainya. Ia suka merasakan riuh detak jantung Hanan. Seperti mengetahui bahwa cowok itu hidup dan hidup untuknya.

Arka berjengit merasakan telinganya tiba-tiba dilingkupi hangat. Darahnya berdesir saat Hanan menggigiti cuping telinganya dengan bibir.

“Kenapa gigit-gigit, sih, ah!” omel Arka. Hanan yang telah melonggarkan pelukannya berhasil membuat Arka menghalau Hanan dengan tangannya. Namun kebebasan itu tak berlangsung lama sebab Hanan dengan sigap mengunci pergelangan tangan Arka.

“Kamu kalo lagi disayang-sayang jangan rewel, dong,” pinta Hanan.

“Disayang- Itu kamu gigit!”

“Kan nggak sakit?”

“Tapi geli.”

“Habis kamu gemes banget, sih. Jadi pengen gigitin semuanya.”

“Emang kamu manusia paling anehhh.”

“Ya, udah. Kalo nggak mau digigit maunya apa? Dicium?” Hanan memiringkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Arka lebih jelas. “Pilih mana? Digigit apa dicium?”

“Pilihan yang nggak menguntungkan banget,” cibir Arka.

Hanan tergelak sebelum memposisikan dirinya di atas Arka. Ia tahu tanpa memilihpun pacarnya itu juga tidak akan menolak. Maka mulai dijatuhkanlah hujan cium di seluruh wajah Arka itu. Deras. Jatuhnya di setiap titik tak hanya sekali. Di kening, pelipis, kelopak mata, lekuk rahang, pucuk hidung, kemudian bibir. Banyak sekali. Berkali-kali.

“Mm- Hanan.”

Gestur tangan Arka yang menahan tubuh Hanan membuatnya mengerti. Ia harus ingat ini bukanlah rumahnya. Bukan tempat di mana ia bisa melakukan sesuatu sebebas hatinya. Ada aturan tak terbilang yang harus Hanan pahami. Namun Arka juga paham untuk tak membuat yang satu kecewa. Diraihnya kepala Hanan untuk rebah di dadanya, mendengar deru napas dan detak jantungnya. Tangannya lembut mengusap helai rambut Hanan dan sesekali punggungnya. Layaknya memberi pengertian bahwa ini sejauh yang bisa ia tawarkan.

“Aku cuma…” Hanan berbisik. Tangannya menyentuh permukaan ranjang, merasakan dingin di sana. “Pengen ngasih memori ke tempat ini. Biar nggak cuma aku yang rumahnya kerasa hangat dan nyaman buat aku sama kamu. Aku juga pengen kamu ngerasa nyaman di rumah, di sini. Karena ada jejak aku. Kita berdua.”

Arka bersumpah ia selalu ingin memaki Hanan untuk hal-hal yang dilakukannya, yang menurutnya menyebalkan namun tanpa ia sadari memiliki makna yang lain. Hanan memang sering melakukan sesuatu yang memicu kejengkelan Arka. Tapi untuk yang satu ini, Arka harus berusaha menarik kuat air matanya kembali agar tak menggenang di permukaan. Benar-benar sialan. Bagaimana bisa Hanan berpikir untuk membuat rumahnya terasa seperti rumah ketika Arka ada di dalamnya? Dan tak terus-menerus menjadikan rumah Hanan sebagai tempat mencari hangat?

“Nan.”

“Hm?”

“Kamu emang bener-bener manusia paling aneh yang pernah aku temuin.”

Hanan mengulum senyum. Usapan tangan Arka di kepalanya terasa hangat.

  • commissioned by @caeraemel
  • pairing : jukyu, slight!milbbang
  • word count : 2152 words
  • tags : kissing, handjob, drunk sex (at least one of them was drunk), consensual sex, multiple orgasm, sex so good one started crying.
  • author note : the characters are borrowed from Jejak di Antara Semesta universe however the story isn’t necessarily correlated to the main story

“Lah, lo di sini juga? Sama siapa?”

Biru menunjuk seseorang di belakang punggungnya yang kemudian datang menghampiri dengan wajah masam. Padahal tadinya Bintang sudah excited ingin merayakan ulang tahunnya berdua Biru di kafe yang baru dibuka seminggu ini, tapi begitu sampai di lokasi pengunjungnya membludak dan Biru melihat dua wajah familiar yang lebih dulu ada di sana.

“Oh, ada Bintang Pantura!” Hanan langsung cengengesan melihat ekspresi Bintang yang makin keruh karena tak hanya kafenya yang penuh, dia malah harus ketemu manusia rese itu di sini.

“Kalo tau kalian mau ke sini, gue pesenin tempat. Nggak bilang, sih,” celetuk Arka yang sedang menikmati makanannya.

“Gue nggak tau kalo sampe harus reservasi dulu,” balas Biru sebelum menoleh ke pacarnya. “Gimana? Mau cari tempat lain?”

Bintang cemberut. “Udah sampe sini tapi… Eh, Nan. Lo udah mau kelar, kan? Gantian.”

“Gue ngantre udah dari sore, enak aja lo ngusir-ngusir.”

“Udah join aja sini,” tawar Arka. “Masih cukup buat berempat.”

Mau tak mau mereka akhirnya berbagi meja dengan Hanan dan Arka karena Bintang sebenarnya sudah kepengen sekali mencoba waffle yang katanya enak itu. Sayang kalau harus menunda lain kali. Sambil menunggu pesanannya datang mereka mengobrol.

“Kok, bisa pas kita ketemu di sini, ya? Kalian emang udah ngerencanain mau ke sini?” tanya Arka.

“Ngerayain ulang tahunnya Bintang, kan,” ucap Biru, tersenyum pada cowok yang duduk di sebelahnya.

Hanan yang duduk di seberang Bintang langsung menepukkan tangannya lalu memberi selamat. “Wah, iya! Hari ini, ya? Habede Bibin!!”

“Udah kemarin, kali,” cetus Bintang namun tetap disambutnya uluran tangan Hanan. “Cuma baru sempet ketemu Biru hari ini.”

“Padahal di grup juga udah pada ngucapin. Gimana sih, kamu?” Arka menyindir Hanan yang kemudian dibalas dengan rangkulan erat. “Sori, ya. Harusnya bisa nge-date berdua aja buat ngerayain ultah.”

“Nggak papa kok, Ka. Ramean juga seru,” kilah Bintang. Biru mengusak pelan rambut pacarnya sambil tertawa kecil. Dia tahu Bintang tadinya dongkol karena rencana manisnya buyar.

Obrolan terus berlanjut hingga pesanan datang. Mata Bintang langsung berbinar begitu melihat piring berisi tumpukan waffle di hadapannya. Tanpa menunggu lagi ia mengiris satu potongan kecil dan memasukkannya ke mulut. Ternyata review orang-orang tidak berlebihan. Memang seenak itu. Bintang menyuapkan sepotong pada Biru dan cowoknya itu setuju kalau rasanya memang lebih enak dari waffle yang pernah ia coba.

“Pantesan rame banget, ya, walaupun baru buka. Menunya emang enak-enak semua,” komentar Arka setelah mencoba pesanan Bintang dan Biru.

“Pengen nyobain semua menunya, deh,” ucap Hanan. “Tapi dibayarin yang ultah.”

Bintang langsung memutar bola matanya sambil menjulurkan lidah. “Malas.”

Selagi Hanan dan Bintang berdebat, Biru diam-diam membersihkan dagu Bintang yang terkena saus. Hanan menyadari kelakuannya lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Kemesraan iniii janganlah cepat berlaluuu.”

Bintang berusaha menyambar ponsel Hanan namun sia-sia. Ia harus rela kalau adegan barusan bakal muncul di Instagram story Hanan.

“Fotoin yang bener lah, Nan,” perintah Arka. Ia membantu mengarahkan ponsel Hanan untuk membidik foto kedua temannya dengan bagus.

Biru pamit ke toilet setelah sesi foto-foto itu selesai. Kemudian Hanan ikut menghilang dan tak lama kembali dengan segelas minuman di tangan. Ditaruhnya gelas itu di hadapan Bintang.

“Apa, nih?”

Birthday drink. Buat lo.”

“Tumben lo baik.”

“Udah buruan cobain.”

Arka yang dari tadi masih curiga dengan minuman yang dibawa Hanan tak sempat mencegah Bintang yang telah menghabiskan dua teguk minumannya.

“Enak, kan?” tanya Hanan dengan cengiran di wajah.

“Enak, sih… Tapi rasanya kayak…” Bintang mencecap lidahnya dengan dahi berkerut.

Arka mengambil paksa gelas dari tangan Bintang dan mencobanya sedikit. Sedetik kemudian ia menatap tajam pada Hanan. Dugaannya benar. Ada alkoholnya.

Biru kembali dari toilet sebelum Arka bisa memberitahu Bintang kalau minumannya mengandung alkohol. Dan ia juga tak mau jadi korban damprat Biru kalau temannya itu tahu pacarnya habis diberi minuman aneh-aneh. Arka tidak mau ikut campur. Pokoknya Hanan.

Obrolan kembali berlangsung seakan tidak terjadi apa-apa. Namun Biru dapat merasakan Bintang yang duduknya semakin merapat padanya, lengannya dipeluk erat oleh cowok itu sembari bibirnya terus mengoceh. Rasanya Bintang juga jadi lebih cerewet.

Saat Bintang mendongakkan wajahnya pada Biru dan tersenyum lebar, Biru tahu ada yang salah. Wajah Bintang terlalu merah dan Biru mencium aroma yang aneh. Ia melihat gelas yang hampir tandas isinya di hadapan Bintang. Kilat ia menyambar gelas itu.

“Kamu minum ap-” Pertanyaan Biru langsung terjawab bahkan sebelum kalimatnya selesai. Aroma yang menguar dari gelas itu terlalu mudah untuk ditebak.

“Kamu pesen ini?” tanya Biru.

“Hm?” Bintang memiringkan kepala seakan tak paham.

“Abin, kamu pesen minuman ini?” ulang Biru.

Bintang meringis. Ia menangkup wajah Biru. “Kamu ganteng banget, sih…”

“Astaga.” Biru seketika mengusap wajahnya panik. Tidak salah lagi, Bintang memang mabuk.

“Hanan yang pesen.” Arka akhirnya buka kartu, menghentikan Hanan yang tengah tertawa geli melihat tingkah Bintang.

Biru mengurut dahinya pening, tak sanggup memarahi Hanan saat itu juga. “Duh, tolol banget sih, Nan…”

“Dikit doang alkoholnya. Dikittt banget!” Hanan berusaha membela diri. “Lagian si Bintang juga suka, kok. Ya nggak, Bin?”

Tapi Bintang sudah tak mampu mencerna omongan Hanan. Ia sibuk menggelendot di lengan pacarnya.

“Dikitnya lo, tuh, seberapa,” sindir Biru tajam. Ia lalu berdiri sambil menarik pacarnya serta. “Udah ayo pulang sekarang.”

Hanan terpaksa ikut cabut setelah Arka mencubit lengannya dan beranjak mengikuti kepergian Biru dan Bintang. Mereka berhenti sejenak di parkiran kafe. Sepertinya tidak memungkinkan kalau harus membawa Bintang dengan motor. Lalu kekhawatiran lain muncul di benak Biru. Lebih tidak mungkin lagi membawa Bintang pulang ke rumahnya dengan kondisi seperti ini.

“Ah, anjing banget lo, Nan.” Biru akhirnya tak bisa membendung sumpah serapahnya. “Kalo udah kayak gini emangnya lo mau tanggung jawab? Gimana jelasin ke orangtuanya?”

“Ya, udah. Nginep aja dulu di tempat lo semalem.”

“Nggak bisa. Nyokap gue juga pasti nanyain Bintang kenapa.”

“Nginep di tempat Hanan, gimana?” usul Arka, merasa bersalah walaupun itu bukan kelakuannya. “Rumahnya lagi kosong. Nggak akan ada yang nanya.”


Biru menurunkan Bintang dari mobil yang terpaksa ia pesan untuk sampai di rumah Hanan sedangkan motornya ia serahkan pada Arka untuk dibawa. Hanan dan Arka sampai lebih dulu kemudian mereka membukakan pintu untuk Biru.

Rumah Hanan memang satu-satunya tempat yang paling aman untuk dijadikan persinggahan sementara. Biru tinggal berusaha sedikit untuk mengarang alasan pada bundanya Bintang setidaknya sampai anaknya sadar besok pagi.

“Kalo butuh air minum ambil di dapur. Terus di deket kulkas ada kotak obat kalo Bintang pusing.” Arka sempat menjelaskan sebelum menghilang bersama Hanan di kamar atas. Biru tidak perlu heran kenapa Arka hapal seluk-beluk rumah Hanan atau kenapa Arka menuju kamar Hanan dan bukannya pulang.

Setelah membaringkan Bintang ke atas ranjang dan melepas sepatunya, Biru duduk di tepi ranjang. Pacarnya terlelap setelah mengoceh nonstop di dalam mobil yang membuat supirnya sempat melempar tatapan tajam. Ketukan di pintu membuat Biru menoleh. Ternyata Hanan yang muncul dengan seringai khasnya.

“Permintaan maaf,” ucap Hanan sembari menyelipkan sesuatu ke genggaman tangan Biru.

Biru membuka tangannya. Sebungkus kondom.

“Monyet!” desis Biru keras pada Hanan yang sudah kabur.

Malam itu menjadi malam yang panjang tanpa Biru sadari. Sebab ia kira hanya butuh terlelap dan Bintang akan terjaga di esok harinya. Namun ternyata tengah malam Bintang terjaga dan membangunkan Biru.

“Biru…”

“Hm? Kenapa, Bin?”

Biru masih setengah terpejam ketika tubuhnya terasa berat lalu kulit lehernya terasa hangat. Serta-merta matanya terbuka sempurna dan ia mendapati Bintang tengah menindihnya, menggesekkan badannya.

“Abin? Kamu nggak papa?”

Bintang hanya mengerang pelan sambil tetap menggesekkan badannya pada Biru. Hidungnya mengendus leher Biru yang aromanya ia sukai.

“Mau… Biru…”

Seketika pening menyerang kepala Biru. Ia paling tidak sanggup mendengar rengekan pacarnya seperti itu. Perlahan ia bangkit sambil menahan punggung Bintang dengan kedua tangannya.

“Abin,” panggil Biru. Ibu jarinya mengusap pipi Bintang yang merah dan hangat. “You’re not sober.”

Bintang bersandar pada sentuhan Biru, terlihat nyaman. Dan ia akan lebih menyukai sentuhan Biru pada sekujur tubuhnya.

“Abin mau Biru…” lirih Bintang. Ia mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada Biru. Tak terelakkan bagi Biru untuk membalas ciumannya. Semakin lama Bintang menuntut lebih. Ciumannya semakin dalam hingga Biru kembali rebah ke ranjang. Lalu tanpa aba-aba Bintang berusaha menanggalkan pakaiannya. Ia kepayahan meloloskan kaosnya dari kepala.

“Abin, Abin-” Upaya Biru untuk mencegah aksinya sia-sia saja. Akhirnya ia terpaksa membantu pacarnya melepas kaosnya. Namun ketika Bintang beralih untuk mengurai ikat pinggangnya, tangan Biru sigap menahannya. “Abin, kamu ngapain?”

Bintang menatap Biru dengan matanya yang sayu. “Sakit…”

“Apa yang sakit?” Biru langsung waspada. Pandangannya jatuh pada tangan Bintang yang mencengkram ikat pinggangnya dengan kuat. Seketika Biru tersadar. Ia mengumpat dalam hati sebelum membantu Bintang melepaskan celananya hingga cowok itu benar-benar tanpa busana.

Milik Bintang sudah tegak dan merah. Pantas saja dari tadi Bintang berusaha menggesekkan badan padanya.

“Aku bantuin, ya.” Biru menangkup milik Bintang dengan satu tangannya lalu mulai mengusap pelan. Bintang menarik napas cepat, ia ikut bergerak lantaran tak sabar.

Gerakan tangan Biru semakin lama semakin cepat seiring dengan napas Bintang yang terengah. Bintang kemudian jatuh ke pelukannya setelah keluar di tangan Biru.

Untuk beberapa saat Bintang diam di dekapan Biru hingga cowok itu mengira pacarnya kembali terlelap. Namun sebuah bisikan di telinganya membuat dirinya terkejut.

“Biru. Abin mau dimasukkin Biru.”

Bisikan itu mengirim gelenyar ke sekujur tubuh Biru. Pening yang datang sekarang dua kali lipat.

“Abin, please don’t test me. I’m not fucking you while you’re drunk.”

“Aku nggak… Aku sayang Biru… Aku mau Biru.”

Faktanya adalah Biru sudah terangsang sejak Bintang terjaga dan menindih tubuhnya. Kini pilihannya hanya menyelesaikan urusannya sendiri di toilet atau memenuhi permintaan Bintang. Biru melirik bungkus kondom dari Hanan di atas nakas sebelum menentukan pilihannya.

Tubuh Bintang rebah di ranjang ketika Biru menukar posisi mereka. Tanpa diminta, Bintang melebarkan kakinya untuk Biru yang membuat pacarnya itu lagi-lagi harus menahan umpatan. Bintang menutup mulutnya dengan punggung tangan kala Biru mulai memasukkan miliknya.

“Jangan ditutupin mukanya. Aku mau liat.”

Biru menyingkirkan tangan Bintang dan menahannya di atas kepala. Ia suka memerhatikan ekspresi Bintang ketika lubangnya dipenuhi. Matanya yang terpejam semakin kuat dan mulutnya yang melebar seiring Biru melesakkan keseluruhan miliknya. Biru tidak dapat menahan diri untuk bergerak.

Desahan yang meluncur dari bibir Bintang tak henti menyerang telinga Biru dan membuat tubuhnya terasa panas. Di sela-sela desah Bintang menyebutkan namanya hingga Biru merasa ia yang tengah mabuk.

“Kamu cantik banget, Sayang. Cantik…” bisik Biru sembari mengunci pergelangan tangan Bintang tetap di tempatnya. “Please keep calling my name.”

Napas Bintang tercekat ketika Biru terus menghunjamkan miliknya dan menggesek dindingnya. Rasanya nikmat hingga matanya mulai terasa panas.

“Hh- Biru… Enak.. Ah! Kamu enak banget, Biru…” rengek Bintang. Mendengar itu, Biru seakan tak memiliki pilihan lain selain mempercepat gerakannya. Biru akan berlutut meminta maaf karena saat ini ia benar-benar butuh untuk membuat Bintang menangis karenanya.

“Abin, Sayang…” Biru memanggil di sela engahannya. “Malem ini aku harus bikin kamu nangis. Dan kamu cuma boleh nangis karena aku.”

Tak sering Bintang mendapati Biru yang demanding di atas ranjang. Maka saat ia mendengar ucapan cowok itu barusan, Bintang merasa aliran darahnya berdesir hebat hingga ia hampir keluar untuk kedua kalinya. Isakannya mulai muncul oleh stimulasi yang didapat dari Biru yang tanpa ampun menggesek lubangnya.

“Biru, aku-” Bintang terisak. Air matanya meleleh ke pipi. “Aah- Ah- Biru!”

Milik Bintang menyemburkan cairan putih sebelum Biru membalikkan tubuhnya dan kembali memasukinya dari belakang. Bintang terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna apa yang terjadi ketika kedua lengan Biru merengkuh tubuhnya erat dan menghantam bagian dalam dindingnya tanpa jeda. Tangis dan desahnya teredam oleh bantal yang mengubur wajahnya.

Tangan Biru mendekap Bintang sangat erat hingga panasnya kulit mereka bertemu. Bintang merasakan sensasi nyeri di bahunya meski ia tak sanggup menyadari bahwa Biru telah menggigit bahunya demi menahan gejolak yang semakin membuncah.

“Nangis, Sayang… Ahh- Nangis buat aku.”

Tubuh mungil Bintang benar-benar hilang di bawah rengkuhannya. Getaran akibat tangisnya terasa di dalam pelukannya. Untuk sesaat timbul sebersit kepuasan dan kebanggaan atas apa yang dilakukannya. Bahwa ia bisa membuat pacarnya menjadi seperti ini.

Bahwa, ternyata, mendominasi Bintang adalah keinginan terpendam yang bahkan baru Biru sadari.

Lalu kepalanya mulai penuh dengan hasrat yang tak mampu lagi Biru kendalikan. Gerakan pinggulnya tak sedikitpun melambat demi merasakan nikmat himpitan lubang pacarnya. Ia merasakan lubang itu berkedut lagi, tanda Bintang mungkin akan kembali melepas nikmat.

“Abin mau keluar lagi? Hm?” bisik Biru.

Tenggorokan Bintang hanya mampu meloloskan isakan dan erangan. Badannya sudah tidak dapat bergerak sebab pelukan Biru menguncinya. Sebentar lagi ia akan keluar tanpa disentuh.

Desahan panjang mengiringi Bintang yang menyembur kuat beberapa kali. Tubuhnya seketika melemas seakan tak bertulang. Biru menahan pacarnya hingga ia akhirnya bertemu klimaksnya sebelum ambruk di atas punggung Bintang. Ia membiarkan dirinya diam sejenak di posisi itu sembari menunggu oksigen kembali memenuhi dadanya lalu mencabut miliknya. Bintang mengerang pelan.

Hati-hati Biru menarik tubuh Bintang hingga ia dapat melihat wajahnya lalu mulai menciuminya. Dari seluruh wajahnya yang basah oleh tangis hingga leher dan bahunya kemudian kembali ke wajahnya.

Look at you. You’re so fucking beautiful.” Biru menelan ludah, memandangi wajah Bintang yang sayu menatapnya. “I’m the luckiest man alive, Abin.”

Bintang tersenyum lemah. Terlalu letih untuk bersuara apalagi mengulurkan tangannya pada Biru. Namun ia yakin Biru tak perlu mendengar ucapannya untuk tahu bahwa ia merasakan hal yang sama.

Kelopak mata Bintang mulai berat hingga ia akhirnya terpejam. Biru menyaksikannya terlelap, lalu memberikan ciuman lembut di keningnya.

Are you gonna forget everything when morning comes?”

but the memories of you live forever...

My best friend died yesterday. And there are so many things I regret. But the one thing I regret most,

I didn’t tell him that I fell in love with him.


Aku ada di sana ketika ia sekarat dan menghembuskan napas terakhirnya. Aku melihat wajahnya untuk terakhir kali sebelum raganya dipeluk bumi. Aku juga melihat langit dan orang-orang menangisi kepergiannya di depan tanah bertabur bunga. Namun bagiku rasanya tetap seperti mimpi. Seperti jika aku membuka mata esok hari, wajahnya yang kesal akan menyambutku karena aku selalu bangun kesiangan.

Ini hari ketujuh sejak ia pergi. Dan ia tak kunjung muncul di depan mataku.

Tanganku mengambil dua kaleng bir dari lemari pendingin dan menjatuhkannya ke keranjang. Kalengnya berdenting akibat beradu satu sama lain.

“Lo minum dua? Gue kan nggak minum?”

“Nggak, satunya buat Changmin.”

Aku terdiam begitu menyadari ucapanku. Jaehyun juga ikut termenung di dekatku. Aku selalu lupa bahwa Changmin tak ada bersama kami lagi. Sahabatku dan Jaehyun. Sahabat kami.

“Nggak papa. Buat gue aja,” ucap Jaehyun pelan. Kami berjalan ke kasir seolah tak terjadi apa-apa. Seolah hati kami tak terasa ngilu karena mengingat Changmin.

Aku mengajak Jaehyun untuk mampir ke apartemenku. Lebih tepatnya dia yang memaksa karena aku selalu menolak untuk diajak keluar. Semenjak kepergian Changmin, aku hanya berbaring di kamar untuk tidur. Aku masih berharap ini semua hanyalah mimpi.

Apartemenku memang selalu menjadi markas untuk kami berkumpul. Alasannya karena tempat ini lebih luas dari kos mereka berdua. Jaehyun dan Changmin tinggal di area kos yang sama. Mereka selalu berboncengan naik motor tiap datang ke apartemenku sambil membawa banyak makanan.

Dan aku yang selalu menyiapkan meja. Menaruh piring dan gelas untuk mereka. Satu untukku, satu untuk Jaehyun, dan satu untuk Changmin…

Jaehyun melihatku tanpa sadar menaruh gelas ketiga di atas meja. Lagi-lagi aku lupa. Perlahan kutarik kembali gelas itu.

“Sori,” gumamku.

Jaehyun tampak ingin mengucapkan sesuatu namun urung. Ia lalu menyibukkan diri membongkar kantong belanja dan mengeluarkan amunisi untuk kami nikmati malam itu. Banyak makanan dan minuman kaleng yang ditaruh di atas meja. Aku hanya mengamatinya dalam diam. Ternyata Jaehyun juga membeli kesukaan Changmin.

Malam itu hanya Jaehyun yang banyak bicara. Menceritakan banyak hal yang sebenarnya tidak penting. Namun dari dulu ia memang begitu. Hanya saja sekarang tidak ada Changmin yang memprotes semua cerita tidak pentingnya. Lalu mereka akan bertengkar dan aku yang menjadi penonton setia.

Lamunanku buyar ketika ponsel Jaehyun berbunyi. Entah mengapa aku begitu memerhatikan obrolannya dengan seseorang di seberang sana hingga tanpa sadar tubuhku condong ke arahnya.

“Siapa, Je?” tanyaku tepat setelah Jaehyun memutus sambungan.

“Itu, kakak gue, biasalah. Nanyain kapan bisa pulang ke rumah.”

Ada kecewa yang terbersit saat mendengar jawaban Jaehyun. “Oh- gue kira…”

Jaehyun mengangkat alisnya. “Lo kira?”

“Nggak. Nggak papa.”

“Lo kira?” ulang Jaehyun. Matanya memicing ke arahku. Namun aku tak menjawab. “Lo kira siapa, Ju?”

Kebisuanku akhirnya memecah emosi Jaehyun. Ia menggebrak meja dengan keras sebelum menarik rambutnya frustrasi.

“Anjing, lah! Lo kenapa sih, Ju!? Lo berharap apa? Hah? Berharap Changmin yang telfon gue barusan? Iya?” Jaehyun mendesis marah. “Changmin udah dikubur dalem-dalem. Lo liat sendiri. Lo juga ada di sana, di sebelah gue!”

“Gue tau.”

“Kalo lo tau, kenapa lo masih kayak gitu tadi? Kenapa lo bersikap seolah-olah Changmin masih ada? Beliin minum dia, nyiapin gelasnya. Kemaren juga lo berusaha ngehubungin nomor dia, kan? Nyokapnya yang ngasih tau gue sambil nangis!”

Aku hanya mendengarkan luapan emosi Jaehyun tanpa memberikan jawaban. Sepertinya memang sedari tadi ia menahan diri hingga akhirnya lepas kendali.

“Lo bangsat.” Suara Jaehyun memelan karena isak tangisnya mulai muncul. Matanya memerah. “Bukan cuma lo doang yang kehilangan Changmin, Ju! Gue! Gue juga! Dan gue nggak mau kehilangan sahabat gue yang lain!”

Aku menunduk, menolak untuk menyaksikan kerapuhan Jaehyun di depan mataku. Aku tidak ingin melihat air matanya.

“Sejak Changmin nggak ada, gue belom pernah liat lo nangis. Bahkan di hari pemakaman dia, lo juga nggak netesin air mata setitik pun. Sebenernya apa sih yang lo rasain, Ju? Hm? Gue lebih mending liat lo nangis kayak anak kecil daripada liat lo jadi mayat hidup kayak gini.”

Entah apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak bisa menjawab karena aku benar-benar tidak tahu. Aku memang sedih. Sedih sekali hingga tak terukur perasaan ini. Dan aku memang tidak menangis saat tubuh Changmin perlahan-lahan tenggelam oleh tanah yang basah. Aku hanya tidak ingin menangis.

Jaehyun pamit untuk pulang sebelum aku sempat menyadari bahwa aku terlalu lama larut kembali dalam pikiranku sendiri. Aku mengantarnya hingga ke pintu, dan sebelum Jaehyun menghilang aku sempat bertanya.

“Je, emangnya salah ya kalo gue masih berharap ini semua cuma mimpi? Emangnya salah kalo gue pengen ketemu Changmin lagi? Gue pengen liat dia buat terakhir kali, Je. Meskipun gue harus ngorbanin apapun.”

“Emangnya lo mau ngapain kalo bisa ketemu dia lagi?”

“Gue… Gue pengen dia tau kalo selama ini gue sayang sama dia. Lebih dari seorang sahabat.”


Pagi itu aku terbangun oleh gaduh suara yang membuat pusing kepalaku makin mendera. Aku lupa pukul berapa aku akhirnya bisa tertidur semalam. Setelah Jaehyun pulang, aku memesan lebih banyak kaleng bir untuk mengalihkan pikiranku.

“Juuu! Juyeonnn!”

Suara Changmin memanggil-manggil. Aku mengerang pelan. Rupanya efek alkohol semalam terlalu hebat untuk kepalaku. Perlahan aku bangkit dari ranjangku demi mencari segelas air.

“Juuu!!”

Suaranya masih belum hilang. Makin berdenging di telinga. Aku menyeret kakiku menuju dapur. Tanganku meraba-raba sebab mataku belum terbuka sempurna. Hingga akhirnya aku berhasil menjangkau meja dapur.

“Ya ampun, Juyeon! Semalem lo abis minum sama Kak Jaehyun, ya? Habis berapa kaleng?”

Ada sesuatu yang menusuk menembus kepalaku untuk sepersekian detik. Sakit sekali.

“Satu, dua, …sepuluh!?”

Aku memukul kepalaku beberapa kali. Kemudian reda. Lalu mataku akhirnya melihat dengan jelas meja yang masih berantakan hasil ngobrol semalam. Ada seseorang yang tengah membereskan kaleng-kaleng bir minumanku.

“…Changmin?” bisikku.

Ia benar-benar seperti Changmin. Memasukkan sampah makanan dan minuman ke dalam kantong plastik lalu berjalan ke sana kemari. Ada hembusan angin tiap kali ia melewati tempat aku berdiri.

“Changmin?” panggilku lagi.

Ia akhirnya berhenti untuk menoleh padaku. “Apa? Air putih?”

Aku mengikuti perpindahan langkahnya dengan kedua mataku kala ia mengambilkan segelas air putih yang menjadi tujuanku ke dapur, yang akhirnya terlupakan. Kemudian ia berdiri di depanku sambil menyodorkan segelas penuh air.

“Nih.”

Aku masih mematung tak berkutik. Sosok di depanku ini benar-benar mirip dengan Changmin. Tak sabar ia akhirnya menarik satu tanganku dan melesakkan gelas dalam genggamanku.

“Gue harus buru-buru bersihin tempat lo, nih. Sebelum Kak Jaehyun dateng.”

Tak lama kemudian suara bel pintu berbunyi.

“Ck, tuh kan! Baru juga diomongin. Kayaknya dia emang beneran punya indra keenam, deh.”

Tergesa aku menaruh gelas yang bahkan belum kusentuh isinya dan bergegas mengikuti langkah Changmin. Begitu sampai di pintu depan, aku melihat wajah Jaehyun yang sumringah.

“Jaehyun.”

“Hoi, Ju! Beler banget muka lo. Kebanyakan minum, sih.”

“Emang semalem lo nggak ikut minum, Kak?”

Setelah melepas sepatunya, Jaehyun menghampiri Changmin dan menoel hidungnya. “Dikittt!”

Aku masih berusaha memroses apa yang sebenarnya terjadi. Jaehyun tampak biasa saja melihat keberadaan Changmin. Tidak, dia terlihat begitu ceria. Maksudku, ia tidak terlihat kaget sepertiku. Apa aku masih bermimpi?

“Ju, sumpah deh. Lo mending duduk terus abisin air putihnya biar nggak linglung. Loh, mana gelasnya tadi?”

Changmin kembali ribut mengambilkan gelas yang kutinggalkan begitu saja dan menyodorkannya padaku lagi. Mau tak mau aku meminumnya hingga tandas. Kerongkonganku terasa lega dan kepalaku jadi lebih ringan.

Dan Changmin tetap ada.

“Kata gue lo mandi sih, Ju. Biar segeran dikit,” celetuk Jaehyun.

“Iya,” timpal Changmin setuju. “Lo pucet, tau. Buruan gih, mandi. Biar sekalian lo selesai, gue juga selesai masakkin sarapannya. Terus makan, deh.”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Nggak. Gue nggak mandi.”

“Dih, jorok tau!” Changmin mengernyitkan hidungnya lucu. Ya Tuhan, aku hampir menangis. “Kalo nggak mandi nggak dapet jatah sarapan.”

Aku mendekat ke arah Changmin untuk menangkap pergelangan tangannya erat-erat. Changmin melebarkan matanya terkejut atas tindakanku yang tiba-tiba.

“Lo beneran…nyata?” desisku.

“Yaa emang apaan? Hologram? Robot? Apa, sih?”

Serta-merta aku menarik tubuh Changmin dan kurengkuh dengan kedua lengan. Sangat erat. Aku tak sadar wajahku sudah basah oleh air mata yang tak mau berhenti. Yang harusnya tumpah saat pemakaman Changmin, kini baru membanjir.

Changmin nyata dan raganya dapat kupeluk. Aku bersumpah tidak ingin melepasnya lagi kalau bukan karena Changmin yang mengeluh kehabisan napas. Baik Jaehyun maupun Changmin tak berkomentar atas sikap anehku barusan. Mungkin mereka mengira aku sedang mengalami sesuatu yang buruk.

Aku memang mengalaminya.

Setengah jam kemudian mereka berhasil menyuruhku masuk ke kamar mandi, dengan syarat Changmin harus tetap tinggal di luar pintu kamar mandi. Dan bersuara. Terserah ia mau bernyanyi atau berteriak sekalipun. Yang jelas aku harus mendengar suara Changmin sampai aku selesai mandi. Permintaan yang aneh, tapi aku takut ia menghilang lagi.

“Udah turutin aja, kayaknya Juyeon abis mimpi buruk,” cetus Jaehyun pada Changmin.

Bukan hanya sekedar mimpi buruk. Tapi akhir dari duniaku.


Di sofa ruang tengah aku duduk bersama Jaehyun. Changmin masih sibuk berkutat di dapur karena tadi aku menghalangi rencananya memasak. Jaehyun bermain dengan ponsel meski aku tahu sebenarnya ia diam-diam mengamati gerak-gerikku.

“Je,” panggilku tiba-tiba yang membuat ponsel Jaehyun hampir terlempar dari tangannya. “Lo inget nggak semalem kita ngapain?”

“Semalem kita kan ngobrol lama banget. Terus lo pesen bir banyak-banyak sampe lo tepar.”

Aku mengusap wajahku berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.

“Gue beneran abis mimpi jelek banget, Je,” desahku.

Jaehyun mengabaikan ponselnya dan beringsut ke dekatku. Ia berbisik, “Kenapa, sih? Lo mimpi apa?”

Aku menoleh ke arah dapur, melihat punggung Changmin yang sedang menunggu masakannya matang.

“Gue mimpi.” Suaraku pelan, hanya cukup didengar berdua. “Kalo Changmin nggak ada.”

Jaehyun menatapku lama sebelum menjauh dariku. Ia menggeleng pelan. “Mimpi lo jelek banget.”

Aku menyetujui ucapannya. Mimpi yang begitu buruk. Namun, itu hanya mimpi. Setidaknya Changmin masih ada di sini. Di depan mataku dan dapat aku sentuh.

Sepanjang hari itu aku tak dapat melepas fokusku dari Changmin. Bermimpi akan kehilangannya membuatku sadar bahwa aku sangat menyayanginya. Aku menyukai senyumnya, matanya yang berbinar tiap kali ia bercerita, tangannya yang tak henti bergerak tiap ia antusias menjelaskan sesuatu, tawanya yang memenuhi ruangan tiap Jaehyun bertingkah, caranya menyebut namaku…

“Ju? Juyeon?”

Aku tersadar dari lamunan. Air keran wastafel masih mengucur di depanku.

“Mau dibantuin, nggak?” tawar Changmin, melihat tumpukan piring kotor yang harus aku cuci. “Kalo nggak, gue mau balik bareng Kak Jaehyun.”

“J-Jangan ke mana-mana.” Secepat kilat aku menahan tangannya. “Maksud gue- Iya, bantuin gue cuci piring.”

Changmin mengerutkan keningnya, menatapku seolah aku adalah orang aneh. Ia mendengus geli sambil menggeleng lalu mulai menyingsingkan lengan baju.

“Lo bikin gue takut deh, lama-lama,” komentarnya.

“Sori.”

Kami berdua mulai mencuci piring dalam diam. Hanya ada suara gemericik air, spons yang beradu dengan permukaan kaca, dan denting piring dan gelas yang ditaruh di rak. Samar-samar juga terdengar suara televisi yang tengah ditonton Jaehyun.

“Lo nggak papa, kan?” tanya Changmin tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Yaa lo semalem minum banyak kata Kak Jaehyun. Lo lagi ada masalah? Lo bisa cerita ke gue juga, Ju.”

Aku bahkan tak ingat kejadian semalam. Yang aku ingat hanyalah mimpi buruk itu.

“Nggak ada apa-apa,” jawabku. “Gue cuma kepikiran sesuatu yang bahkan nggak kejadian.”

“Beneran? Bukan gara-gara…” Changmin mengangsurkan gelas yang barusan dicucinya padaku. “…gue sama Kak Jaehyun pacaran, kan?”

Tanganku yang seharusnya menerima gelas dari Changmin seketika membeku dan membiarkan gelas itu terjun bebas ke lantai dan remuk berkeping-keping.

Jaehyun berlari ke dapur begitu ia mendengar pekikan nyaring dari Changmin. Ia langsung menghampiri Changmin dan menarik kedua tangannya.

“Ada yang luka?” desisnya panik, memeriksa tangan Changmin. Aku belum pernah melihat Jaehyun sekhawatir ini, selain di mimpi burukku.

“Nggak, nggak papa! Itu Juyeon-” Changmin menunjuk ke arahku yang masih mematung. “Juyeon, kaki lo kena pecahan kaca.”

Aku menunduk menatap punggung kakiku yang tergores kaca dan mulai membentuk garis merah. Tapi aku tak merasakan apapun selain jantungku yang berdentum keras hingga memenuhi telinga.

Jaehyun dan Changmin pacaran?

Sejak kapan?

Aku tak ingat lagi setelahnya bagaimana luka di kakiku telah dibalut plester, dapurku sudah bersih, dan apartemenku kembali sunyi. Hanya ada aku dan keheningan.


Pagi itu aku terbangun tanpa mimpi apapun. Aku melihat ujung kakiku yang tak terjangkau selimut. Masih ada plester luka di sana. Bangun dari rebahku, aku mengecek ponsel untuk melihat foto yang sempat diambil kemarin.

Masih ada. Foto kami bertiga saat makan.

Aku menghembuskan napas lega. Changmin masih ada.

Setelah mandi dan sarapan seadanya, aku pergi keluar apartemen. Ada tempat yang perlu aku kunjungi untuk memastikan sesuatu. Bahwa mimpi buruk itu hanyalah bunga tidur belaka.

Aku membawa langkahku menyusuri gundukan demi gundukan bernisan menuju satu titik pembuktian. Bahwa Changmin tak terlelap di sana, bahwa nama Changmin tak tertera di nisan kayu itu.

Langkahku seketika terhenti hanya beberapa meter dari gundukan tanah yang basah. Yang di atasnya tertabur bunga yang masih segar. Tiba-tiba aku merasa gugup. Kuhitung langkahku kembali hingga aku benar-benar berdiri di dekatnya. Aku menatap dalam diam makam yang masih basah itu sebelum ponselku berbunyi.

Jaehyun.

“Posisi?”

“Gue di-” Suaraku tercekat. “Gue di kafe.”

“Bagi lokasinya. Gue samperin.” Jaehyun berhenti sejenak sebelum menambahkan. “Gue sendiri.”

Aku menarik napas panjang dan menghelanya dengan gemetar. Makam itu bukan milik Changmin. Changmin memang masih ada.

Meski bukan milikku.


Jaehyun memang tak pernah berbasa-basi untuk menyampaikan maksudnya. Begitu ia duduk di hadapanku, bahkan sebelum memesan minuman, ia membiarkan dirinya bertanya langsung.

“Ju, emangnya bener? Lo sebenernya nggak setuju gue pacaran sama Changmin?”

Sebuah informasi yang masih berusaha kucerna sejak semalam terlontar begitu saja dari mulutnya. Aku bahkan tidak tahu mereka menjalin hubungan yang lebih dari sahabat, bagaimana aku bisa memberikan persetujuan atau tidak?

“Lo sejak kapan pacaran sama Changmin?” Pertanyaan itu terasa pahit di mulutku. Jaehyun menatapku seakan apa yang kutanyakan barusan adalah sesuatu yang ganjil. Kemudian ekspresi wajahnya terlihat kecewa.

“Jadi lo beneran nggak setuju.” Jaehyun menyimpulkan tanpa menjawab pertanyaanku. “Kenapa, sih? Bertahun-tahun kita kenal dan lo masih nggak bisa percaya kalo hubungan gue sama Changmin nggak akan ngerusak persahabatan kita?”

Lucu sekali. Bertahun-tahun kami bersahabat dan Jaehyun tak menyadari aku memendam perasaan untuk Changmin. Yang harus selalu aku pendam karena aku tak mau menyakiti persahabatan kami.

“Dari kemaren Changmin kepikiran lo terus, asal lo tau,” lanjut Jaehyun. “Dia takut lo merasa terasing karena hubungan dia sama gue. Semenjak gue macarin Changmin, dia selalu gelisah tiap pergi berdua gue. Takut kalo lo tau dan nganggep kami berdua sengaja ninggalin lo. Kemaren juga Changmin harusnya berangkat ke apartemen lo bareng gue. Tapi dia milih ke tempat lo duluan, kan? Segitu pedulinya Changmin sama perasaan lo. Kenapa lo nggak bisa ngelakuin hal yang sama?”

Kepalaku terasa pening. Aku menekan-nekan pangkal hidungku. Aku bahkan tidak berbuat apapun yang menyakiti Changmin. Aku tidak akan pernah.

“Kapan sih, Je, gue nggak peduli sama Changmin?” lirihku. “Gue sayang sama dia.”

“Kalo gitu buktiin kalo lo juga bahagia sama keputusan yang dia pilih.”

“Emangnya gue ngapain?” Emosiku mulai tersulut. Aku menyorot tajam wajah Jaehyun.

“Stop bertingkah aneh sama Changmin. Berhenti bikin dia ngerasa bersalah,” tegas Jaehyun.

Aku menggelengkan kepalaku tak mengerti. Bibirku terbuka namun tak ada sepatah kata yang dapat kuucap. Aku merasa Jaehyun semakin melantur.

“Jujur ya, Ju.” Kini suaranya merendah. “Sebenernya gue ngerasa kalo mimpi lo itu… cerita yang lo buat sendiri. Nggak cuma sekali lo bilang ke gue soal mimpi buruk tentang Changmin, tapi habis itu lo selalu pura-pura lupa.”

“Maksud lo-”

“Jadi gue minta tolong sama lo, Juyeon. Biarin Changmin bahagia sama keputusannya tanpa perlu merasa bersalah. Dia masih tetep sahabat lo, sama kayak gue.”


Aku merasa seperti bangun dari mimpi buruk untuk masuk ke mimpi buruk yang lain. Aku mencoba mengingat lagi mimpi tentang kematian Changmin yang mulai kabur dari memori. Kesedihannya masih terasa nyata setiap kali kepalaku memutar kenangan itu. Aku mempererat pejaman mataku demi satu persatu kepingan memori itu terputar jelas. Mataku mulai terasa panas. Hingga kemudian…

Gue pengen liat dia buat terakhir kali. Meskipun gue harus ngorbanin apapun.

Setetes air mataku jatuh ke pangkuan begitu aku membuka mata. Napasku memburu tak beraturan. Kepalaku berputar hebat.

Aku tak tahu sejak kapan aku telah keluar dari apartemenku dan berlari menyusuri jalanan. Udara malam itu sangat dingin menyerang kulitku. Kakiku terus berlari hingga napasku hampir habis, namun aku tidak peduli. Aku terus melaju tanpa henti.

Pintu kaca itu kubuka dengan satu dorongan kuat yang membuat orang-orang di dalamnya menoleh sejenak ke arahku. Tapi perhatianku hanya tertuju pada seseorang.

Changmin tampak terkejut melihatku muncul di kafe tempatnya bekerja paruh waktu. Namun keterkejutannya hanya sementara. Ia kemudian tersenyum. Cerah.


“Hei, sori lama.”

Aku membalikkan badan ke arah Changmin yang baru saja selesai dengan shift-nya. Aku menyambutnya dengan senyum seraya mengangsurkan sekaleng minuman dingin yang sempat kubeli di minimarket selagi menunggu.

“Makasih.” Changmin menerima kaleng itu dan meneguknya. Kami berdua bersandar di pagar jembatan sambil menikmati aliran sungai di bawah kami.

“Capek?” tanyaku.

Changmin menoleh ke arahku kemudian menggeleng. “Enggak. Nggak capek.”

Satu hal yang aku kagumi dari Changmin. Ia tak pernah mengeluh akan hidupnya. Meski ia harus pontang-panting mencari uang demi memenuhi kebutuhannya, ia selalu bersyukur. Atas hal sekecil apapun.

“Tumben lo ke sini sendirian. Biasanya sama Kak Jaehyun.” Changmin berhenti sejenak sebelum menambahkan. “Tapi gue seneng, sih.”

Aku memiringkan kepalaku mendengar ucapannya. “Gue pengen liat lo.”

“Hm?” Changmin bergumam seolah mendengar sesuatu yang lucu. Ia berjalan mendekat hingga benar-benar berdiri di depan wajahku lalu berjinjit untuk meraih sisi wajahku dengan tangannya yang dingin. “Udah keliatan belom?”

Aku membiarkan wajahku berada dalam tangkupan tangan Changmin. Aku ingin ia memegang wajahku lama. Aku ingin merasakan sentuhannya lagi.

“Changmin, gue sayang sama lo,” ucapku pelan. “Maaf kalo selama ini gue jarang ngasih tau lo itu. Nggak pernah, malah.”

Untuk sepersekian detik aku menyaksikan pendar kesedihan yang melintas di mata Changmin, sebelum ia membalutnya dengan senyum hangat.

“Lo ke sini buat ngomong itu doang?” tanya Changmin setelah ia menarik kembali tangannya dan mengalihkan perhatiannya ke permukaan sungai. “Disuruh Kak Jaehyun, ya?”

Aku buru-buru menggeleng. “Jaehyun nggak nyuruh apa-apa.”

“Terus? Kenapa tiba-tiba bilang gitu? Bukan lo banget, tau.”

“Gue… Gue cuma pengen lo tau.”

Changmin tertawa kecil. Ia menyembunyikan sebagian wajahnya di balik lengannya yang terlipat. Matanya masih terfokus pada satu titik di kejauhan.

“Mana mungkin, sih, gue nggak tau? Yang dengerin cerita gue, yang mastiin gue nggak telat makan, yang langsung nelfon gue tiap kali gue minta tolong di grup, yang ngingetin gue kalo dunia, tuh, lebih luas dari rasa khawatir gue. Itu semua selalu lo, Ju.”

Aku menatapnya yang tengah berbicara dengan sorot mata yang berpendar nanar. Kakiku hampir melangkah mendekatinya kala ia menoleh ke arahku, tersenyum getir.

“Lo bikin gue sedih, Ju,” ucapnya lirih. “Lo ngomong gitu kayak lo mau pergi jauh.”

Ada sesuatu yang mencekik tenggorokanku. Sakit sekali. Membuatku sulit untuk mengucap kata bahwa kamulah yang meninggalkanku pergi. Aku tak pernah ke mana-mana, Changmin.

“Lo inget, nggak, waktu awal-awal kita temenan? Gue lagi berantem sama Kak Jaehyun dan lo nyamperin gue. Padahal lo juga belom lama kenal sama gue. Tapi lo rela buat dengerin cerita dari sudut pandang gue duluan ketimbang Kak Jaehyun yang udah lama lo kenal. Terus besoknya tiba-tiba Kak Jaehyun dateng buat minta maaf.”

Aku membiarkan Changmin melanjutkan ceritanya karena suaraku masih tertahan di balik tenggorokan. Kali ini senyumnya cerah.

“Dia minta maaf sama gue. Padahal selama gue temenan sama Kak Jaehyun, dia yang paling gengsi buat ngaku salah. Dan itu semua gara-gara lo, Ju. Mulai saat itu gue yakin kalo lo bakal jadi peran penting di pertemanan kita. Dan gue nggak salah.”

Changmin menarik napas lalu menarik dirinya dari pagar jembatan. Ia berjalan ke arahku dan berdiri tepat di hadapanku, cukup untukku melihat dengan jelas wajahnya.

“Changmin, gue-” Suaraku berusaha menerobos tenggorokan yang rasanya makin tersumbat perih. “Gue minta maaf. Gue egois. Gue pengen liat lo cuma demi ngasih tau perasaan gue. Semuanya tentang gue. Tentang gimana gue takut kehilangan lo. Gue nggak mikirin perasaan lo. Gue nggak nyoba nempatin diri gue di posisi lo. Gue nggak-”

Aku tak menyadari air mataku telah berlinangan. Aku terisak hebat bagai bocah kecil yang tersesat ketika Changmin memelukku erat. Ia mengusap punggungku dengan lembut, menenangkan. Kemudian aku mendengar ia berbisik pelan.

“Lo nggak akan kehilangan gue, Juyeon…”

Aku mengangkat kedua lenganku untuk membalas pelukannya. Kulingkarkan lenganku ke sekitar tubuhnya. Namun yang kupeluk hanyalah angin.


Suara dering ponsel yang nyaring membangunkanku. Aku membuka mata dan melihat langit-langit kamarku. Dadaku sesak dan jantungku bergemuruh. Ponselku berdering tanpa henti, seolah memanggilku untuk membisukannya.

Jaehyun.

“Masih molor lo, ya?” Seruannya langsung menyambut telingaku. “Gue di depan pintu. Bukain.”

Jaehyun menutup panggilan tanpa menunggu respon dariku. Dengan kepala berdenyut aku menyeret kakiku menuju pintu.

“Udah jam berapa, nih?” gerutu Jaehyun setelah kepalanya menyembul dari balik pintu dan berjalan masuk melewatiku. Ia menghempaskan dirinya di atas sofa sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Buruan siap-siap keburu siang. Kita belom beli bunga juga.”

Ah. Benar.

Aku memutar langkahku menuju kamar mandi sebelum Jaehyun tiba-tiba bertanya.

“Kaki lo kenapa, tuh?”

Sebelum aku mengerti apa maksudnya, tatapanku telah lebih dulu jatuh pada kakiku. Ada plester yang membalut punggung kaki kiriku. Melihat itu, seketika ada gelenyar yang merambat ke sekujur tubuhku.

“Bunga matahari,” gumamku.

“Hah?” Jaehyun memicingkan mata seakan tak mengerti maksud ucapanku.

“Beliin bunga matahari buat Changmin.”

“Oh, iya, iya. Bunga matahari.” Jaehyun bergumam sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Sudah lupa akan plester luka di kakiku.

Aku melanjutkan langkah kakiku. Kali ini terasa lebih ringan. Changmin benar. Aku tidak akan kehilangannya. Ia akan selalu ada. Di sini. Di dalam hati dan pikiranku, serta Jaehyun.

Hari ini, sahabatku Changmin berulang tahun. Namun ia tak akan menua. Dan aku akan merayakan kebahagiaannya dengan suka cita, tanpa air mata.